akhir tahun ini ( renungan 3)

Boleh dikata, tahun ini adalah tahun yang cukup indah, tapi juga ribet. Setelah dipercaya menjadi anggota BEM, akhirnya gugur di ujung jalan, lemah tak bersisa. KASU IPAL masi dijalanin, tapi masi belum tau kelanjutanya besok, rencananya sih mudah2an juni sudah selesai (alias lengser). Dibalik semua itu banyak hikmah

 

Saya salu sama Kadep saya di BEM, mas Ansori, dimana kepemimpinannya sangat kuat dan bisa menggerakan departemen ini, padahal di kepengurusan sebelumnya departemen ini sangat disepelekan, bahkan disuruh bubar. Di BEM juga saya dapet banyak hal, temen, sikap, pengalaman, dan tempat menghabiskan waktu. Di satu sisi kemarin saya sangat senang bisa membantu temen2 walau pun ngga maksimal, tapi dengan tidakan yang kita lakukan di dept kita kemaren mudah2an jadi berkah buat yang dibantu dan yang membantu.

 

Di IPAL ada sesuatu hal yang besar tejadi. Pendakian Massal Pertama yang diadakan IPAL dan bersamaan itu juga ikut dalam rangkaian penanaman masal 16.000 bibit pohon di puncak gn.Prau . Puji Tuhan, acaranya lancar, temen2 peserta juga mengaku cukup puas ditengah kekurangan yang terjadi seperti fasilitas yang kurang nyaman, dan makanan yang terlanjur dingin ( mau gmn lagi) hhaha. Tapi, sayangnya kaga ikut, nyesel si tapi gapapa. Uniknya di IPAL tahun inin adalah kebetulan sumberdayanya keren2. mauitu AJ, ato TG. Semua komitmen buat majuin biro ini dan sama2 mau belajar.

 

Tahun ini juga mungkin jadi tahun yang berkah untuk keluarga, diama kakak saya Dina menikah pada tanggal 14 desember. semoga di pernikahannya ini mendapatkan kebahagiaan, kesuksesan dan kesertaan Tuhan didalamnya, amin. Papa juga sehat, mama juga. si ko Erik juga fine2 aja, dan makin hobi mainin motornya. moga keselamatan ada besama dia, amin

 

ya untuk koreksi diri tahu ini, lebih jaga makan (karna ni jatoh sakit di akhir tahun), sering hubungin keluarga, karena suara keluarga adalah suara Tuhan (so agama), heheh, lebih deket ama Tuhan, jaga organisasi yang tersisa, lebih banyak bangun diri, jangan acuh, jangan bangke, kurangin maen fm, dan segera jalan lurus

Edo Susanto
31-12-13
pukul 21:18

Iklan

Ada Apa dengan Indonesia ?

Mumpung nganggur, saya ingin coba bercerita tentag Indonesia belakangan, terutama di dunia pertelevisian. Catatan ini di tulis ketika perjalanan dari cikampek menuju Semarang, 16 desember 2013.

 

Saya sedikit terusik dengan isi pertelevisian yang menurut saya mulai tidak sehat. Belakangan televise lebih mengutamakan rating dibandingkan dengan kualitas. Tengok saja acara “Yuk Kepp Smile, yang setiap hari ada di televisi. Acara yang menurut saya arah dan ujuannya sudah tidak jelas dan ter arah. Setaiap acara di buka, dan di tutup di mulai dengan “jogged”, dan inti acara juga tidak berarah, cenderung terjadi pem-bully-an dan kesewenang-wenangan, seolah olah apa yang terjadi disana dan dilakukan disana adalah tindakan pembenaran atas nama lawakan.

 

Tengok juga stasiun televise lain yang basis kepemilikannya adalah milik ARB. Mungkin yang agak saya kritiki adalah acara yang mirip juga, dengan durasi yang lama juga. Bedanya jika acara sebelumnya ditutup dengan jogged, yang ini berupa pembullyan yang sangat parah dengan (sebut saja jampi-jampi) masak aer! Di acara ini juga yang sempat akan menjerat Olga Syaputra masuk penjara karena omongan yang tidak di jaga dan dianggap melecehkan seorang bintang tamu. Padahal saya cukup senag, betapa bahagianya mata saya ketika memandang Tv tanpa olga, yang menurut saya memang kurang pantas tingkah lakunya dalam menjalankan suatu acara.

 

Memang Olga ini artis yang sedang laris manis di pasaran, mungkin sehari dia dapat “JOBS” hingga 4 kali sehari, di 4 stasiun Tv yang berbeda. Begitu juga Rafi Ahmad yang merupakan patner sejatinya, ibarat pribahasa, dimana ada Olga, di situ ada Rafi (dan itu memuakkan mata). Saya masih ngga ngerti sama pikirannya orang Indonesia, kenapa memilih mereka sebagai entertainer?? Apa ngga ada orang yang lebih normal?

 

Sekarang juga suatu grup tv yang biasa dipanggil MNC grup memiliki keterblakangan juga seperti tv lain, selain si MNC ini masih juga salah satu “pengguna” Olga, MNC ini juga aga special, karena dipimpin langsung oleh salah satu BAKAL CALON WAKIL PRESIDEN, BAKAL CALON DAN WAKIL . salah satu keterbelakangan yang di alami grup ini adalah sinetronnya. Saya bukannya anti dengan sinetron, tapi belakangan kualitas film kita, terutama sinetron terus menurun.  Parameter yang saya gunakan adalah banyaknya anak muda Indonesia sekarang yang beralih menonton drama K-pop (walau menurut saya hal tersebutpun kurang normal). Sinetron yang disuguhkan perupa sinetron strips (yang maksudnya kejar tayang) dengan adegan memperlihatkan ekspresi muka saja yang sebenernya engga ekspresif. Salah satu kecacatan lannya adalah dengan adanya telekuis dengan tema kebangsaan yang ternyata bobrok (terindikasi rekayasa  monngo liat yang saya share di FB saya). Dan perubahan nama TPI menjadi MNC, yang merubah fungsi televise tersebut juga (padahal nama TPI sangat mulia yaitu Televisi Pendidikan Indonesia)

Oke saya ingin Tanya, ada apa dengan Indonesia???

 

Saya cukup bigung dan putus asa dengan segala hal yang ada di tv yang laju kualitasnya terus menurun.  Kita semua berharap generasi yang akan datang akan semakin baik dan maju, tapi apakah mungkin kita akan maju jika hiburan / tontonan yang kita tonton adalah (maap) sampah? Apakah kelakuan Olga dan Rafi yang terkadang kebencong-bencongan, dan pembullyan suatu kebenaran? Trus apakah mereka mendidik? Kita sudah tau, dari 24 jam milik manusia, kegiatan menonton akan lebih banyak pada jam aktif, sekitar jam 6 pagi sampai jam 10 malam, artinya sebanyak 16 jam kita ada kemungkinan di depan Tv. Sedangkan artis yang saya sebut ada dari jam 8-10 pagi dam jam 4-10 sore. Kurang lebih kita dan anak-anak dicekoki selama 8jam, bahkan lebih, dan menurut saya kita sudah kearah makin parah.

 

Kita berharap generasi yang datang akan jadi pintar dan memiliki visi, tapi acara anakpun seolah menghilang. Saya rasa hanya beberapa stasiun tv yg masih menayangkan acara pendidikan seperti Catatan Si Unyil, DUNIA FAUNA , dll. Saya rasa acara tersebut berguna, dan bisa menjadi katalis bagi  anak-anak  untuk mencari tau tentang dunia.

 

Tidak selesai dengan itu, Ternyata ketidaknormalan juga terjadi di dunia pemberitaan menurut saya.  Di sini saya hanya menyoroti bagian yang memang saya rasa aga salah kaprah, salah satunya tentang pembawa berita. Seinget saya dulu yang namanya pembawa berita merupakan salah satu patokan, atau acuan sebagaimana pembacaan EYD yang benar. Karena seperti kita ketahui, bahasa Indonesia dalam pelafalannya dapat berubah-ubah sesuai daerahnya, dan menurut guru Bahasa Indonesia saya sewaktu SMA, media Pembawa Acara lah yang seharusnya membaca secara EYD. Belakangan seolah menjadi hal yang normal saja ketika seorang pembaca berita berucap “jadinya” yg padahal ada kata yang pantas yaitu “menjadi” dan juga banyak kata-kata lain yang tidak di EYD kan di dalam berita. Ya, ada apa dengan Indonesia??? Sadar atau tidak kita akan menuju kearah keterpurukan jika terus begini. Reformasi dan penyehatan dunia pertelevisian mutlak ada, tak hanya mengejar rating, tapi kualitas dan mendidiknya yang harus ditingkatkan.

 

16-12-13

Edo Susanto

Tanggal 100 tahun-an

Lucu, 11-12-13, katanya tanggal setiap seratus tahun. Dasar tv sampah, makin ngaco aja tu isinya. Every day is the day with retime in once 100 years  (maap inggrisnya bapuk XD). Intinya walau tanggal tsb cantik, toh hari yang kita lalui special, karena hanya terjadi 100 tahun sekali.. LOL

 

Edo Susanto

100n tahunan

11-12-13 (baru di tulis pada tanggal bersejarah 100 tahunan 16-12-13)

Pesta Demokrasi Sedang dimulai disini?

5 desember mungkin menjadi hal yang penting bagi kedua pasang calon presiden BEM KM Fakultas Teknik Univesitas Diponegoro. setelah melaui hari yang terjal dan panjang, hari inilah yang akan menjadi penentuan takdir mereka. tidak dijalani dengan jalan yang mulus, tidak membuat mereka gentar dan mau berkorban (konon katanya salhsatu calon meninggalkan praktikumnyadan siap mengulang tahun depan.

 

mereka tidak sedikit mengeluarkan uang untuk biaya kampanye dan lain-lain, pertanyaan sederhananya, kenapa mereka mau?, dan apa mamfaat yang akan di dapatkan mereka? atau juga darimana mereka dapat uang?? secara sederhana ada dua kemungkinan hal ini dapat terjadi, 1 yaitu karena dorongan orang tertentu yang mensuport dengan tujuan akhir dapat menanamkan suatu idelis, dalam hal ini adalah BEM FT, dan dalam hal lain yaitu, mungkin saja ketulusan belaka.

Namun disisi lain, sebenarnya apa sih yang membuat mereka mau “turun Tangan??” Secara jelas, salah satu calon memiliki maksud tersembunyi, yaitu memperjuangkan D3 yang sampai saat ini setelah terjadinya Format D3, sedikit gantung dan menunggu momentum untuk terbang atau karam. Yang satu yang lain saya belum lihat apa motif di balik pencalonan dirinya. Pada awal saya masuk BEM, tujuan yang standar ada di benak para opreker (orang yang ikut oprec) tentu cari teman, cari pengalaman, cari saudara baru, atau seperti calon yang satunya lagi tadi. Saya cukup dibuat bingung dengannya, apabenar ada tujuan untuk menanam? #EH

 

Dibalik  ketidak lancaran dan pembubaran KPR karena menolak menjalankan pemira dengan 2 pasang calon (sebelumnya hapir terjadi aklamasi), semoga “pesta” ini berjalan lancar, dan siapapun mereka yang terpilih, akan amanah dan tulus menjadi pemimpin yang dipercaya, amin

Edo Susanto
05-1213