Mendidik dan Mengajar

hari ini main pabrik, dan dipertanakanlah apa fungsi S1 Lingkungan. Setelah pembahasan konvensional yg biasa aku ucapkan terjadi perdebatan panjang tentang pendidakan dan fungsinya . Saya sendiri tidak mau terlibat panjang, namun setidaknya perbincangan ini terjadi sampai 1 jam, cape, karena pepesan koson. Intinya, mereka bahkan saya sendiri turut kecewa dengan output dari institusi pendidikan sendiri, yang memiliki output yg kurang berarah

pendidikan dibagi 2, ada mengajar dan mendidik, mengajar lebih pada hardskill yang didasari keilmuan, dan mendidik adalah proses yg dibuat agar yang didik siap untuk menjalanikehidupan. (quots bapaknya)

Edo Susanto
12-08-2014 jam 23.45

Iklan

Kebiasaan

Kebiasaan memang bagus, tapi kita mesti sadar, perubahan mesti terjadi . Dulu saya sempat berfikir, kebiasaan adalah racun yg membuat manusia gak kreatif dan mati rasa, tapi akhinya saya juga terjebak dalam kebiasaan (molor, begadang, hura2). Kebiasaan menjadi hal yg positif belakangan ini, tapi jujur, move on kebiasaan itu penting, maksudnya kita butuh banget yang namanya kebiasaan, tapi secara berkala kita juga harus sadar kebiasaan kita udah ga uptodate dan udah ga ada manfaatnya.

Jadi kita masuk ke inti tema setelah ngalor ngidul tentang kebiasaan. Persis tanggal sekian maret, akhirnya dijadikan hari putus, dengan komitmen yang kuat dan mengikat saling menjauh, intinya demi kebaikan. So segala kebiasaan, makan bareng, jalan bareng, diskusi bareng, ngopi bareng yang sudah jadi kebiasaan harus hilang. Tapi kenyataannya, karena ini adalah kebiasaan, susah buat ngilangin hal ini. Dalam benak dulu, aku mikirnya gampang aja setelah putus kita masing, dan anggap aja cuman kenal, tapi emang dasarnya adalah kebiasaan, ya komitmtn untuk berpisah rasanya lumayan berat.

Setelah dia move on dan kita terpisah jarak, ko rasanya ada yg melegakan, apakah itu?? (so misterius)
ya, kebiasaan untuk ga ketemu. Aku merasa beban sebenarnya adalah kebiasaan untuk berkomunikasi, atau lebih tepatnya terpaksa berkomunikasi. Komunikasi menjadi pengubung dan jembatan yg melancarkan suatu hubungan, komunikasi terputus, maka cinta putus ( seengganya untuk sementara hingga komunikasi terhubung kembali ) . Beda dengan orag jaman dulu yg tahan dengan jarak dan waktu, dengan mudahnya mobilisasi dan banyaknya jumlah manusia di dunia ini, rasanya cukup masuk akal bagi saya untuk menyudahi komunikasi yg sifatnya intens.

Dan yg paling penting adalah “MOVE ON”
Ya, kebiasaan lama yg sering kita lakukan seperti bala2 (nama lain bakwan / acak2an ) yg disebutkan tadi, kita bisa pindahkan, atau substitusi kebiasaan itu. Misalnya yg dilakukan saat ini yaitu cari teman yg bisa diajak ngobrol (makasi yg sudah nemenin SMS-an gabut), dan untungnya dia membawa aku ke arah POSITIF. Yes, SUWUN VERY MUCH, hahah

Kebiasaan memang bagus, tapi kita mesti sadar, perubahan mesti terjadi .

Edo Susanto
11-08-2014 jam 23.55