Mentalitas Orang Indonesia

Oke, maaf sebelumnya jika tulisan ini menyinggung orang, atau sebagian orang, bahkan semua orang. Tulisan ini saya tulis berdasarkan mandat moral yg harus saya paparkan selaku mahasiswa yg paham betul apa yg disebut baik dan untuk kebaikan, atau sesuatu yg jahat. Saya mau menceritakan kejadian kemarin, ketika pembekalan terakhir Universitas untuk KKN.

Setelah melewati rangkaian pembekalan baik tingkat fakultas, maupun universitas, akhirnya kami (sebagian besar angkatan) 2011 Universitas Diponegoro melewati tahap akhir, yaitu Post Test pembekalan KKN tingkat universitas. Saya selaku peserta yang termasuk santai mendengar desas-desus bahwa post test hanya berupa formalitas, karena untuk pengkoreksi sendiri dosen KKN menyerahkan mahasiswa untuk melaksanakannya. Dalam hal ini sedikit rasa lega diantara kami peserta KKN Tim 1 tahun 2015 karena ada niatan diantara kami untuk saling “menyelamatkan”.

Namun disisi lain, desen pembimbing kami sudah tidak kepalang baiknya. Secara gamblang, beliau menyatakan bahwa, dalam proses post test, peserta harus memenuhi kompetensi, yaitu memperoleh nilai min 60, jika ada mahasiswa yg tidak mencapai target, beliau menjanjikan semuanya “aman”. Maksud dari aman adalah, mahasiswa dipastikan mencapai kompetensi minimum, yaitu 60. Namun hal tersebut bukan tanpa syarat, beliau mewajibkan kami hadir, dan memenuhi ttd absen kehadiran pembekalan KKN, tentu ini bukan hal yg sulit. Dalam proses pengerjaan beliau-beliau juga “mempermudah” kami dengan melonggalkan pengawasan, sehingga banyak rekan-rekan saya yg membuka gedget untuk mencari kunci jawaban.


jadi apa yg sebenarnya menjadi permasalahan?
. Dalam paham saya mengenai apa fungsi dari test sendiri, yaitu untuk mengetahui apakah peserta tahu atau tidak bagaimana atau apa saja yg mereka dapati dari pembekalan itu. Tapi yg saya dapati adalah, post test kali ini adalah FORMALITAS. Saya bukan lah orang suci, secara jujur saya menyatakan diri melakukan kecurangan. Namun cukup miris bagi saya sebagai orang yg berada di institusi pendidikan, praktik kecurangan dan rendahnya penanaman mental juang untuk mahasiswa ini akan menjadi momok menghantui seluruh peserta yg mengikuti pada gelombang kali ini. Dengan sudut pandang penyepelehan test ini menjadi titik balik runtuhnya moralitas dari keluarga kampus Undip. Dalam hal ini, sekalian saja kita tidak usah melaksanakan Post Test, hanya untuk sekedar mengetahui apakah mahasiswa layak di terjunkan apa tidak. Menjadi duka kita, kemarin adalah “penyepelehan” yg sangat memalukan.

Dalam hal ini saya mempunyai ide, mengapa kita tidak laksanakan secara jujur? Namun jika ada mahasiswa yg tidak memenuhi kopetensi memiliki kewajiban agar dapat mengikuti KKN ini. Saya jadi meragukan apakah KKN ini akan bermamfaat, jika yg terjadi sebenarnya adalah, kita secara memalukan melakukan kecurangan untuk memiliki citra bahwa mahasiswa undip adalah mahasiswa yg paham nilai-nilai pengabdian. Jangan juga salahkan mahasiswa, jika kami tidak mampu mengangkat masyarakat yg kami bina di lapangan, karena kompetensi kami ini masi harus dipertanyakan.

Saya tidak ingin mencari musuh, hal ini saya samapaikan sebagai tanggung jawab moral yg terjadi di dalam diri saya. Semoga kedepan ada perbaikan sistem yg lebih baik, sehingga Kebanggaan atas Almamater dan proses pengembangan karakter di dalam universitas akan terus membaik

Edo susanto
senin, (06.01)
1-12-14

Fokus Tahun Ini

Yes, setelah gabut tak berujung akhirnya malam ini adalah final bagi ane buat berjalan. Ya walau ga ada penyesalan, tapi banyak yang harus dibenahi. Puji Tuhan, belakangan jalur kehidupan membaik dan mungkin fokus kuliah adalah hal yg terbaik. Bukan tentang dapat jilai bagus aja, softskill juga harus ditingkatkan. Oke bakal di share dah apa aja yg jadi fokus ane gan, hahah :

Memperbaiki sikap
yoyoi setelah kesuraman yg terjadi, apalagi sikap (yg kata orang-orang) mental preman, mudah-mudahan bisa di perbaiki. Bukannya apa-apa, mungkin sikap yg kaya gini yg bikin orang segan atau takut buat deket, jadi doakan aja mudah-mudahan hali ini bisa kesampaian,

Hemat
joss, ini adalah penyakit mahasiswa…(-.-) . emang si, emak ato si babeh nggak begitu rusuh tentang pola konsumtif, tapi demi cita-cita yang luhur mudah-mudahan bisa di hemat untuk hal penting lainnya seperti hobi ane (hahhah)

Travelling atau Naik Gunung
Indonesia terlalu sempit bro, sist, kalo lu cuman dateng ke mall atau bioskop. masih banyak destinasi yg pengen di kunjungin, dalam proritas terdekat, pengen banget eksplore jawa timur dan barat. Gunung yg ingin di daki dalam waktu dekat Sumbing dan Merapi. Dan special Tour de Bali-Lombok (amin)

KP dan TA
berhubung sudah detik-detiknya mudah-mudahan keduanya lancar. Minta doa-nya saja. Walau laporan KP masih kabur, tapi ane yakin bisa kelar ko, (hahhaha)

Tambah Temen
Kesempatan baik memang jarang datang, namun jika datang manfaatkan sebaik mungkin. Nah. ada media baik untuk menambah persaudaraan nih, josss KKN. Mudah-mudahan lancar dan nambah temen bukan nambah musuh

Jadi Wirausahawan
SUSU LONDO bakal jadi media sporadist ane, bersama Afan, Dian , dan Wiwid mudah-mudahan dananya bisa di himpun dan dikembangakn dan menjadi bahan pembelajaran kami esok.

Edo Susanto (03.51)
kamis, 27 November 2014

Harum Hujan

Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu

Aku akhirnya menyerah, dan akhirnya pergumulan perasaan ini selesai. Dalam perbincangan terakhir banyak hal yg kau tahu apa dan kenapa. Pada akhir kemarin aku telah berucap, dan semoga rencana itu tak akan oleng oleh apapun. Terahir, aku berucap untuk tidak berdua lagi dengan mu, biarkan kamu bahagia dan aku segera dengan orang lain (amin).

Setelah perjalanan 3 tahun (karena dari maba) mungkin kemarin adalah komitmen yg paling kuat. Banyak bagiku beralasan untuk menjauh, dan banyak juga alasan yg untuk tidak lagi. Di hari kemarin terakhir kali aku melihatmu melalui spion motorku, dimana biasanya kedua mata kita saling bertemu saat di perempatan jalan atau di lampu merah. Tapi, terakhir kemarin yg aku lihat bukan matamu, tapi bahumu, tapi, aahhh itu sudah cukup.

Mungkin kemarin adalah boncengan terakhir kita . Dulu hampir setiap hari kita boncengan sambil mengobrol kecil dalam perjalanan bersantap siang atau malam. Aku dengar sosok barumu juga orang yg senang bersepedah motor, jadi cukup bagiku diposisi itu.

Mungkin kemarin adalah perjalanan terakhir kita jalan berdua, setelah lamanya kita mencoba berpisah, sampai akhirnya kamu mulai mencintai sosok barumu yahh aku bahagia mendengarnya. Ingat, dalam perbincangan terakhir kita, sudah banyak yang aku sampaikan, maaf jika aku tidak banyak membantu dalam menyelesaikan ini, tapi akhirnya aku yakin untuk tidak lagi.

Mungkin kemarin adalah saat terakhir. Dimana aku selalu memandangmu penuh harap. Dimana aku biasa bercanda gurau denganmu. Dimana kita sering berdiskusi. Dimana kita saling menatap. Dan dimana biasannya aku nyaman dengan aromamu .

“Bagaikan angin hujan yg membawa harum itu, Aku tak pernah menyesal untuk basah ataupun kedinginan. Dan dengan segala resiko itu akhirnya aku masuk dalam rumah dan menunggu hujan selanjutnya, aku terus meyakinkan diriku sendiri kalau memang kamu bukan tercipta untuk pemuja hujan sepertiku”