Fanatisme

Belakangan ini saya jadi terpikirkan (gegara liat tv) kalau mencintai sesuatu dengan berlebih, menjadikan individu terlibat dalam masalah. Rasanya rasa suka (cinta) yg berlebih, masih jarang menjadikan orang jauh dari masalah. Yg kita bicarakan bukan tentang benar atau salah (yg nilainya relatif), namun dampak dari rasa suka (fanatisme) yg berlebih terhadap sosok, atau benda, atau budaya bahkan Tuhan.

Kemarin (di salah satu media online nasional) kompas.com, ada cerita yg menggelitik, ttg seorang (yg disebut) habib dari organisasi FPI, melakukan salam dalam bahasa sunda (sampurasun), beliau pelesetkan menjadi salam racun (atau apalah, lupa hahha). Lanjut cerita, habib ini terpancing karena bupati kab. Purwakarta ini katanya  sama sekali sudah tidak menggunakan salam assalammualaikum (maap klo salah tulis) dalam setiap membuka acara resmi di Purwakarta. Tentu reaksi keras hadir (dari netizen) bahwa, habib ini telah memancing keributan, dan katanya akhirnya dilaporkan dengan dugaan hate speach (ujaran kebencian). Sang habib berdalih, dedi (nama bupati purwakarta), musrik (percaya setan, pemujaan atau sejenisnya) karena mendirikan banyak patung di kab. Purwakarta.

(vidio yg disebar organisasi fpi)

Adalagi kisah tentang (betapa cintanya seseorang) perasaan. Tidak sedikit, yg terjebak perasaan karna sudah mentok (katanya) dan akhirnya terlewat batas. Kisah yg lumayan bikin pilu, berakibat menghilangkan “hasil” mereka, dengan menelan pil seharga 1,5 juta – 2 juta rupiah.

 

Saya juga jadi ingat tentang cerita (yg saya baca) Ghandi “sang mahatma” yg artinya yg agung (klo ga salah). Beliau sangat dipuja bahkan di dewa-kan. Bahkan dalam rumor2 yg beredar jika Ghandi berjalan melewati sesuatu, niscaya akan tumbuh pohon rambat yg kemudian mengembangkan bunga2 putih yg indah. Lucu memang terdengar seperti dongeng Disney, namun itulah yg terjadi ketika fanatisme hadir, dan mempengaruhi pikiran rasional, dan humanisme seseorang .

 

Hadir juga kisah tentang bapak kemerdekaan kita ( founding father ) dimana beliau dangat dipuja ketika awal2 kemerdekaan. Sempat membuat Jendral besar Soedirman marah karena menghianati apa yg dia ucapkan kepada sang Jendral, namun karena menjadi simbol perlawanan, kembali dipuja rakyatnya, ketika dia berpidato di jakarta, setelah ibukota kembali dari Jogja ke Jakarta.

 

Fanatisme sendiri dalam KBBI yg saya copas dari internet memlilki arti keyakinan (kepercayaan) yg terlalu kuat terhadap ajaran (agama, politik, dan sebagainya).

 

Rasa cinta yg berlebihan (merujuk kearah pemujaan) tentu efeknya menurut saya tidak terlalu baik. Sepeti hukum Newton yg pertama, setelah terjadinya aksi, terjadi reaksi. Tatanan kehidupan kita bagaikan atom, yg terdiri dari berbagai komponen seperti elektron, neutron, dan proton (dalam hal ini komponen2 itu adalah agama, sosok, budaya dan lain2). Tentu jika suatu komponen tidak semestinya (tidak stabil) atau terlalu kuat maka atom tersebut tidaklah stabil. Dengan kata lain akan terjadi gesekan dan bahkan pecah (seperti bom atom) dan menghasilkan zat (atom) dengan jenis yg baru. Namun masalahnya, apakah semua orang atau komponen menyukai perubahan tatanan seperti penjelasan diatas.

 

Dalam bermasyarakat, pasti ada Yin dan Yang atau positif dan negatif. Dalam hal ini jika anda terlalu mencintai sesuatu, muaranya adalah anda akan sangan membenci sesuatu, dan itu adalah hukum alam. Fanatisme membunuh rasionalisme, seolah, sosok, agama, sikap politik yg kita pegang dan terapkan adalah kebenaran mutlak, dan menjadikan apa yg berlawanan dengan idealis itu adalah salah.

 

Latar belakang, memang menjadikan kita apa dan siapa. Dan tentang fanatisme sendiri, berasal dari mana kita hadir (latar belakang kita). Seperti saya, saya tidak memungkiri, bahsa saya sangat suka ketenangan (tanpa suara). Saya kurang menyukai jika ada orang yg bersuara keras (berisik) karena saya hadir dari keluarga yg tidak terbiasa dengan orang yg berteriak. Tapi karena saya dalam hal ini tidak fanatik dalam kesunyian, dan mewajarkan keramaian, saya jarang protes atau menegur pelaku kebisingan.

 

Jumlah yg banyak (juga) mengakibatkan fanatisme. Pengaruh pola pikir orang kebanyakan, menjadikan pola pikir tersebut adalah kebenaran “mutlak” seolah hadir sebagai hukum / norma yg berlaku, padahal tidak semua orang setuju dengan itu.

 

Saya jadi aga membayangkan the fallen angel Luchifer, kenapa dia jatuh atau istilah lainnya diusir oleh Tuhan ke neraka, dan menjadi pemimpin disana dan siap menyerang kerajaan Allah. Saya jadi coba memahami dia, mungkin karena fanatisme kepada Tuhan yg sangat dalam, pemujaan seluruh hidupnya, namun hadir manusia kemudian menyampingkannya, dan terjadi kecemburuan.

 

Kita harus belajar banyak dari kisah2 diatas, agar tidak salah dan membuat tersinggung sejumlah orang / kelompok minoritas maupun mayoritas. Karena seperti yg dijelaskan diatas, fanatisme selain menciptakan cinta, melahirkan juga rasa benci.

 

Edo Susanto

03-12-15 (pukul 01.50)

Iklan

Monggo Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s