Limitless (serial)

setelah beberapa saat vakum ga nonton, kemarin secara ga sengaja buka kaskus dan ternyata ada series ini di pembahasannya. Memang nggak banyak yg saya baca, yg jelas saya memang suka science fiktif . Di versi layar lebarnya banyak rasa penasaran saya tentang bagaimana otak dioptimalkan hingga 100%, efek obat, dan konspirasi yg terjadi di dunia untuk merebutkan “barang” ini. Saya sangat suka versi seriesnya…:)

MV5BMTA4ODE4NjA5ODleQTJeQWpwZ15BbWU4MDUxMTQ0NTYx._V1_UX182_CR0,0,182,268_AL_

Dibalik kekurangannya, saya pikir sutradara dari series ini mampu mengangkat isu2 penting, kemajuan teknologi, serta “gilanya” konspirasi tingkat tinggi yg ada di kepolisian. Dalam cerita, diceritakan “pecundang” biasa (sama seperti versi filmnya), laki2 ini bernama briand, suatu ketika terjebak dengan “NZT”, obat mutahir yg mampu meningkatkan kinerja dan syaraf otank untuk mencapai batas maksimumnya. Namun seperti versi filmnya, obat ini mempunya “jangka waktu” 12 jam dan efek negatif berupa paranoid, sakit secara fisik, hingga kematian.

 

pemeran utama Limitless di versi film (lupa namanya) yg  sudah berhasil dan menjadi senat amerika, telah mengetahui penangkalnya, dan menawarkan briand untuk menjadi “rekan”. Brian terlibat dengan masalah hukum, namun dengan kemampuannya setelah meminum NZT (dan kebal akan efek negatifnya), Brian dipercaya sebagai agen “magang” di FBI, dan sekaligus menjadi Spy bagi senator, berjaga barangkali FBI mengarahkan mata kasus NZT ke arah dia.

Penuh intik, dan hal2 yg mencengangkan, namun series ini cukupmenghibur.

 

Edo Susanto

20-4-2016 (pukul :12.38)

Ngulang Series

Saya pikir banyak film series yg ceritanya sederhana, tapi sarat dengan nilai moral. Ada beberapa series favorit saya, tapi rata2 memang buatan luar negeri. ATM erorr 2 (dan juga film-nya), Breaking Bad, True Detective, How I met Your Mother, My boss my hero, viking, dan malahan saya sekarang nambah list kartun, yaitu One Piece.

a672nDe_460s

Tentu saya bisa nonton itu semua ga lepas dari adanya fasilitas 20 mbps di kost, jadi dengan leluasa saya bisa untuk nonton dengan sekedar streaming atau download jika ada teman sehobi juga lagi sama2 ngikutin film series tertentu.

Dan sampai tiba akhirnya saya nonton ulang series How I Met Your Mother. Pengalaman saya pertama nonton adalah di Goa, bersama teman2, series yg jenaka bercerita tentang 5 kawan yg bersahabat. Diceritakan oleh narator bahwaini adalah kisah dimana Dia bertemu dengan ibu mereka (narator bercerita pada 2 anaknya). Tokoh utamanya bernama Ted Mosby, tpikal lelaki melankolis, mudah terhasut, dan percaya dengan namanya keajaiban dan cinta pada pandangan pertama. Berkali2 tokoh utama berhubungan dengan wanita, dan selalu berujung dengan kekecewaan.

Jujur saya sendiri agak kecewa dengan ending cerita dari How I Met Your Mother, tapi karena dulu saya memulai menonton dari Season 4, saya pikir ga ada salahnya ngulang nonton lagi dari season 1. Tentu humor khas Amerika sangat kental, dan ngocol, apalagi Barney Stinson (diperankan Oleh Neil Patrick Haris), sangat All Out dalam memerankan peran tersebut .

Dan pada akhirnya sekitar 3 minggu yg lalu saya nonton episode dimana Ted nyaris menikah (Season 4). Menyedihkan memang, didalam cerita terjadi dilema antara persahabatan, cinta lama, dan keragu-raguan. Dan yg paling menyedihkan (dan nyebelin) adalah pernikahannya gagal gegara ngundang MANTAN  suami.  Memang sih tidak bisa semua cerita direfleksikan dalam kehidupan. Namun saya rasa stament terakhir dari cerita itu berisi “Kids, I tell you, never invite your ex in your weedding”, patut dipertimbangkan.

Memang, selesainya hubungan bukan berarti selesainya silahturahmi adalah benar adanya. Namun belajar dari berita2 terkini, banyak sekali manusia yg “aga bego” mengacaukan kebahagian sang mantan, padahal hari itu adalah penikahan dia.

Saya jadi mikir, baik buruknya. Ketika saya jalan2 menuju Banyuwangi, kereta melewati sebuah kota. Saya malah sudah merencanakan jika memang diundang mungkin kereta menjadi alternatif kendaraan yg akan saya gunakan. Tapi karna “nonton”, saya jadi mikir ulang, apakah itu perlu?

 

Edo susanto

12-4-2016 (pukul : 18.11)

Peng-Aku-an

Belakangan ini cukup ramai media sosial (dan media elektronik) membahasa, SS “yg katanya anak Jendral Polisi”. Di salah satu video yg beredar, anak ini mengancam polisi yg hendak menilangnya, dan berkata “ku tandai kau”. Dia enggan ditilang, walau terindikasi salah, dan mengancam petugas dengan jabatan orang tuanya yg konon salah satu jendral polisi.

aL2woqv_460s

Dalam waktu singkat video beredar, tentu masyarakat langsung menilai dengan separatis dan sekena-nya. Dan mungkin inilah bentuk kemuakan dari masyarakat atas kesewenang2an para pejabat dan “anak pejabat” yg di lingkungan masyarakat terkenal sering seenaknya dan berlindung atas nama kekuasaan dari orang tua mereka.

Tapi nasib sial ditimpa pada SS. Entah mungkin tidak sadar atau larut dalam euforiah selesainya UN untuk SMA, dia mungkin tidak sadar bahwa tingkah lakunya tersebut “terliput” media, dan langsung menyebar dengan ganasnya. Kenyataan yg paling pahit, pengakuan SS ttg jabatan orang tua nya yg seorang “jendral” adalah palsu, alias bohong belaka.

Beberapa hari seusai menyebarnya video tersebut, pihak “jendral” yg disebut SS menyatakan bahwa anak tersebut tidak lain adalah keponakan, bukan anak.Tak lama musibah merundung SS. Sang ayah meninggal dunia karna sakit yg diakibatkan shock dan stress .

Tentu jika dipikir2, betapa pahitnya kehidupan SS, setelah ujaran kebencian yg mengalir pada dirinya, kemudian dilanjutkan dengan kepergian sang ayah. Tapi siapakah yg paling menyesal dengan kejadian ini.

Saya mungkin tak bosan berkata bahwa aday yg salah dengan mentalitas rakyat yg ada di bangsa ini. Tabiat buruk untuk pamer, membenci kesuksesan orang, serta menggunjing menjadi ciri khas negeri ini, terutama di media sosial. Saya pikir toleran si yg terkenal dari bangsa ini sudah memudar, dan bahkan hilang.

Tapi bagaimana nasib SS, yg masih remaja dan belia. Kita tidak tau level kehidupannya, temannya, atau bagaimana keluarganya mendidik. Tapi jika kita lihat dari video yg beredar, bisa kita lihat bahwa REMAJA ini sedang menunjukan diri bahwa dia adalah seorang yg memliki kekuasaan dan kebal hukum. Intimidasi yg dia keluarkan (mengatakan “kutantandai kau!” saya pikir bukan refleks anak remaja biasa.

Waktu saya kecil berumur 4 atau 5 tahun, saya sering mengalami bulying dan intimidasi dari teman sebaya (yg aga tua dikit). Ibu, dan Bapak saya selaku orang tua dan orang sibuk (maklum katanya saya adalah anak yg paling ditelantarkan) serta memperhatikan perkembangan mental dan sosial putranya yg ganteng ini, mereka berdua nyuruh main ke luar rumah (kebetulan dulu deket pondok pesantren). Orang tua saya bingung karena setiap saya main, pasti pulang sambil nangis, dan pasti ditanya, “kamu berantem sama Wanar, Uho?”. Saya ngangguk2 aja (dan dah lupa kenapa nagis terus, seinget saya saya memang dijauhi, dan pernah berantem ala anak kecil). Tapi jangan harap kita orang dapat bantuan orang tua untuk memarahi musuh kita, orang tua saya malah bilang gini “kalo dipukul, ya pukul balik. Jangan nangis, cowo kok nangis! Dan inget, berantemnya jangan pake batu” *jeng2.

Itulah sepenggal ilmu hidup yg diberi orang tua, tentu masih banyak nilai yg bagus seperti penggalan diata, mungkin dikisah lain kita bisa bercerita lagi.

Oke berdasarkan latarbelakan kisah masalalu saya, tentu itu yg menjadi dasar pegangan saya dalam menghadapi masalah, maupun intimidasi dari orang lain. Orang tua saya selau bilang :”aparat (polisi) sulit untuk jujur, lingkungannya berat, dan berengsek”. Dan saya juga punya cerita tentang sepupu saudaranya yg masuk ke kepolisian dengan cara yg tidak benar, dan refleksi keluarganya pun termasuk kurang normal dan terbilang berantakan (menurut deskripsi temen saya).

Saya jadi bisa menarik kesimpulan tentang SS, remaja yg (mungkin) lugu itu. Lingkungan keluarga yg keras (karna Batak), serta punya om yg polisi, dia mungkin mendapat masukan untuk selalu bersembunyi di “ketiak pak AD”. dan mungkin itu juga masukan dari om-nya itu sendiri. Secara coba kita bayangkan jika kita punya om, pak de, pak le, kayanya kita ga bakal sekonyong-konyong bersembunyi dibalik nama mereka jika memang tidak diijinkan.

Saya pikir ini menjadi evaluasi bersama tentang bagaimana mendidik anak dan memberikannya pengertian dan pengetahuan yg baik. Sehingga jangan sampai SS selanjutnya hadir, bahkan dari keluarga kita sendiri, dimana kesalahannya adalah pendidikan moral yg rendah, dan keangkuhan yg tidak pernah diturunkan dengan nilai2 kesahajaan sesama manusia.

 

Edo Susanto

12-4-2016 (Pukul :15.56)

(yg Dilakukan dalam) Rutinitas

Saya pikir perjalanan Tugas Akhir saya sudah mencapai Bos Terakhirnya, masalah2 teknis sepertinya ga ada, dan masalah pribadilah yg menghambat jari ini mengetik dan memulai. Selama hampir sebulan saya “libur” gabut ga jelas, padahal Dosbing nyari2 (emang bimbingam benga kaya gini). Dan saya rasa Statistika lah yg bakal jadi hambatan terakhir.

Sempat Stagnan dalam masalah ini sebulan yg lalu, dengan memaksakan menggunakan aplikasi Mathlab akhirnya saya menyerah dan mengalah (Karna ga kunjung ngerti) dan setelah baca2 lagi, ternyata aplikasi yg lebih sederhana (seperti SPSS, MIinitab, Exel, dll) sudah cukup mempuni menjawab permasalahan yg saya hadapi. Saya sendiri menilai semuanya bisa diselesaikan dengan tekad dan rencana yg lurus kedepan.

Dan tentu aktifitas saya nge-fb, nge-youtube, nge-blog, atau sekedar baca berita dan artikel (yg saya harap nambah ilmu) tetap berjalan, namun aktifitas tambahan ini cukup bikin cape, hahah. Selain nambah dengan mengerjakan Tugas Akhir, agar engga jenuh, saya menambah aktfitas di kost dengan masak. Yoi, selain menghemat, bisa nge-refresh otak yg jenuh liatin layar terus.

Dan aktifitas diatas benar2 jadi rutinitas sehari2, sejak Goa tutup.

Saya kadang berfikir, apakah semua rutinitas saya ini sama seperti orang kebanyakan (yg sedang menghadapi Tugas Akhir) apa hanya saya saja yg seperti ini. Saya harap 1 minggu kedepan bisa mendapat kepastian untuk semhas TA.

 

Edo Susanto

8 April 2016 (pukul 06.26)