Paham atau Takut

Malam ini terasa mager buat revisi, sama garap Tubes PTPA (perencanaan tempat pemprosesan akhir) yg belum dapat SP (surat puas), kemudian timbul rasa pengen nulis setelah baca tulisan ini, intinya di berita tersebut ada anggota DPR-RI yg ga setuju kebiri / hukuman mati untuk pelaku, dan lebih setuju “Anggaran” ditingkatkan untuk penaggulangan korban, dan ini rasanya WTF banget.

Sebelum saya bahas opini saya tentang ibu DPR-RI “YG TERHORMAT” ini, tentu saya ingin sedikit membahas tentang Yunyun, dan Eno, korban ke-ngeri-an kejahatan yg dilakukan oleh pelaku “beramai2”, dan sempat dikabarkan beberapa pelaku pembunuhan dan pemerkosanaan Yunyun cengeesan di Polsek.

Yunyun adalah remaja 14 tahun asal bengkulu (lihat berita disini dan sini). Usia tersangka belasan dan ada yg dibawah umur yaitu 16 tahun dan 17 tahun. Kondisi tersangka dalam keadaan mabuk dan secara sadis memukul kepala korban berkali2 agar korban tidak berontak, dan bahkam memukul “lagi” memastikan korban meninggal. Sadis.

Adalagi Eno, korban pemerkosaan 1 anak dibawah umur (15 tahun) dan sisa entah berapa tahun (saya sendiri jujur agak menghindari berita ini). Menurut berita yg beredar Eno (19 tahun) memiliki hubungan khusus dengan RA (15 tahun) seperti kekasih, kemudian pada malam kejadian Eno “menyelundupkan” RA secara diam2 kedalam mess khusus karyawan wanita, dan sempat bercumbu dengan tersangka katanya. Namun masalah timbul ketika RA minta “lebih” dan Eno menolak. Anehnya setelah “ngambek” RA balik lagi dengan teman yg katanya baru kenal, dan berencana untuk memperkosa Eno.Eno dicekik hingga lemas, dan secara bergantian diperkosa 3 tersangka. Puncak dari kejadian ini adalah RA berfikir untuk membunuh Eno, kemudian menemukan cangkul. Cangkul, atau lebih tepatnya batang cangkul sepanjang 90 cm, dimasukan ke (maaf) vagina korban, hingga tembus ke organ hati dan bahkan paru-paru. Sampai sekarang hal ini yg bikin saya merinding dan males buka berita tentang Eno.

Sebelum berbicara banyak, saya ucapkan belasungkawa kepada keluarga korban yg ditinggalkan, semoga keluarga mendapat kesabaran dan tegar dalam melewati cobaan tersebut. Dan maaf jika dalam tulisan ini ada yg kurang berkenan, sehingga menyakiti atau mengungkit luka dan rasa kehilangan dari keluarga.

Tentu ini hanya segelintir berita pahit yg beredar, belom adanya kegoblokan orang yg merkosa bayi 9 bulan (WTF MEN……). Pahit rasanya mendengar korban2 menderita (sampai dibunuh), yg paling sakit adalah mendengar pelaku berumur dibawah saya. Kemudian secara massal berita2 nasional menggaungkan Indonesia Darurat Moral / Kejahatan Seksual. Kalo saya sendi lebih setuju darurat moral sih. Setelah pak Setnov kepilih di Golkar, fix udah, negeri ini salah arah (lupakan). Balik lagi ke kasus, status pelaku yg rata2 remaja, dan tingkat berfikir yg amat sadis tersebut membuat kita berfikir, salah makan apa anak2 kita?

aVPpoZv_460s

 

Kemudian saya jadi ingin mengangkat isu lama seperti gambar diatas. Beberapa waktu lalu KPAI melontarkan ide kontroversial, yaitu hendak mem-blok game2 seperti GTA 5, Point Blank, dll . Rata-rata semua game itu saya tahu, dan “ngerti” isinya, apalahi GTA. Untuk informasi aja GTA merupakan kependekan dari Grand Thief Auto intinya gimana caranya kita menguasai kota dengan cara menjadi Gangster. Ada juga adegan “gtuan-nya”. Game memang simple, bisa nabrak orang, bunuh orang, cuman dipenjara, kemudian keluar lagi, simple kan?

Sebenernya dari dulu saya dan teman seumuran saya dah ngerti “itu” dari lama taun, mungkin SD. Ketika saya SD juga beredar game “esek2” tentang main mahyong, kemudian kita menyama2kan gambar (persis Onet) kemudian jika berhasi keluar gambar wanita bugil, “jeng2”. Lupa namanya game-nya, inget gambarnya (LOL).

Oke, kemudian akses. Konten Pornografi engga dipungkiri memang makin mudah di jaman ini. Jangan munafik bagi cowo, pasti ketika anda SD, SMP, atau paling telat SMA, pasti pernah NONBAR, di rumah temen, dan rusuh seketika ketika orangtua pemilik rumah pulang. Tapi saya ga tau, hari ini anak2 itu dapat konten pornografidari mana? Di waktu saya kecil, bagi anak yg ketauan bisa di satronin dan di introgasi berjam2, saya engga tau dijaman sekarang gimana (mengingat everybody have smartphone).

Saya pikir jurang antara orang tua dan generasi “melek teknologi” saya rasa jadi masalah di hari ini. Mungkin orang tua tersangka merupakan orang dengan usia rentan 40, berpendidikan SD-SMA dengan pekerjaan buruh atau pekerjaan kasar lainnya, yg dimana kelas menengah ke bawah yg latah memberikan anak “Makanan” untuk berfikir jahat atau tau tentang hal jahat. Orang tua yg rata2 pekerja keras kurang membekali anak2, cenderung membebaskan anak2 tanpa diberi pengetahuan moral tentang yg baik atau yg buruk.  Golongan ini memang sulit, dan terkadang memandang sinis terhadap dunia (ini hasil analisa, karna saya memang banyak ketemu tipikal gini di ckp, tapi mudah2an orang2 ckp ga sepicik ini).

13260112_843518445753012_5089902750133333500_n

Dan saya pikir, tindakan yg berlebihan ini memang terjadi karena negeri ini darurat moral, karna memang negeri ini negeri yg keji tanpa Cinta dan Kasih antar sesama (saya sendiri ngerasa kurang berdampak, Pengakuan liat disini) dan ini yg menyebabkan darurat moral. Negeri ini dipenuhi orang munafik yg berteriak ingin perubahan, namun enggan berubah. Ingin kenyamanan, namun tak mau menerima konsuekuensi (dalam hal ini teknologi). Rasa tanggungjawab yg rendah juga mungkin jadi kunci permasalahan hari ini. Dan memang, ketika kekacauan terjadi, ada 2 cara yg bisa dilakukan, yaitu taat atau takut.

Maaf klo nyerempe agama

Alkisah, Yesus datang ke suatu kota. Di kota tersebut ada seorang wanita yg statusnya pelacur, dan dihakimi oleh warga secara hukum taurat, yaitu dilempari oleh batu hingga mati. Namun Yesus menghentikan tindakan warga tersebut dan berkata ” Barang siapa yg tak berdosa, silahkan lemparkan batu kepada dia hingga mati”. Seketika maayarakat yg menghakimi bubar, dan Yesus mungkin bisa saja lempar batu, tapi engga ngelakuin (liat di Alkitab sendiri dah).

Beda Kasus dengan Sodom, dan Gomora. Kota dengan penuh dosa. Suatu malam tanpa ampun kota tersebut hancur seketika oleh 2 malaikat. tentu

Tuhan memberi kita jalan 2, paham (kasus 1) yaitu memahami bahwa kasih dapat memafkan dan penghakiman tidak dapat dilakukan semena2, pemberian pemahaman bahwa kita bisa menjadi agen perubahan dengan cara memaafkan. Atau takut, dengan cara penghakiman denga cara yg memberikan efek jera (kasus 2) atau rasa takut.

Tentu jadi serba salah, bagaimana ada contoh yg baik, kenapa kita harus pakai cara yg keras. Seperti opini yg beredar hari ini, yaitu hukum mati atau kebiri tersangak (garis keras) yg menyebabkan niat dari tersangka selanjutnya ciut, atau dengan cara biasa aja (kaya bu DPR-RI).

Saya sendiri secara terbuka berani berkata bahwa pilihan keras adalah pilihan saya. Bahkan Potong sampai ke akar (aka biji) menjadi pilihan yg terbaik menurut saya. Saya sering melakukan Sosial eksperiment (bahkan ke diri saya sendiri) tentang apa sih yg membuat manusia bisa berjalan lurus. Bagi saya hal yg relevan dijaman ini adalah takut, bukan paham. Pendekatan secara pemahaman akan membutuhkan waktu lama, belum lagi masuknya masukan2 untuk meringankan yg malah menghilangkan esensi dari pelarangan, atau pencegahan.

Kasus nyata dalam hidup. Menggunakan helm bagi sebagian orang masih sering diabaikan. Saya dulu termasuk. Namun alasan saya untuk sering menggunakan helm, pada awalnya adalah takut, bukan paham. Setelah pengalaman ditilang dan diberi keringanan oleh pakpol, setelah itu saya takut untuk tidak menggunakan helm. Namun berangsur, rasa takut saya hilang, dan berganti paham. (ini kisah waktu SMA)

Dan saya pikir pola yg terjadi di negeri kita dengan pendidikan yg rendah serta moral yg makin luntur, perlu hadirnya rasa takut untuk suatu kebaikan. Seperti Tuhan yg yg menyediakan Neraka bagi yg tidak taat, dan surga buat orang yg lurus, saya pikir nilai “punishment” perlu hadir, terutama di kasus amoral yg saya bahas sedari tadi.

Buat bu DPR, AHsu Dalah….!!! coba anda jadi keluarga korban???

 

Edo Susanto

25 mei 2016 (12.19)

Menata

Setelah semhas kemarin,pandangan saya udah ga terlalu sinis lagi tentang kehidupan, ditambah sering bersosial sama temen2. Memang setelah Goa bubar, saya kehilangan dunia saya, untuk sekedar ngobrol dan membicarakan hal2 yg sepele namun layak untuk perbincangan WARKOP.

Saya sebenernya pengen nulis tentang Yunyun, dan Eno korban kekerasan seksual dan pembunuhan yg bernasib sial, atau sekedar menyusun ulang dan bercerita tentang gagal masuk tim proper (btw Dipong Lolos, selamat), atau mau cerita tentang keresahan2  dan pandangan yang masih terpendam oleh kemalasan dan mager.

Kemarin ketika selesai semhas, saya ngobrol sama Dipong ttg apa tujuan kita setelah lulus. Dian dengan cita2nya yg (menurut saya mulia), serta otak saya yg ngerasa kopong karna dipikir2 engga ada rencana makro yg arah tujuannnya ke arah perbaikan dunia (baik sosial, maupun ekonomi). Saya merasa diri saya sendiri selfish dan kurang “berdampak” buat lingkungan saya setelah lepas ngurus IPAL.

Saya rasa memang seharusnya kita bisa berdampak, saya harus memikirkannya, mungkin ketika “bayar hutang” dilakukan, saya bakal nemuin dengan observasi apa sih yg dibutuhin masyarakat hari ini.

munkin terasa Naif, namun semoga hal yg saya pikirkin dapat berdampak buat banyak orang, tentu dalam lingkup yang positif..

 

Edo Susanto

22 Mei 2016 (pukul 22.00)

Kemarin di Slasar Admin TL

Kemarin saya datang ke kampus untuk sekedar mengurus surat undangan “seminar hasil” tugas akhir saya dan bertemu dengan teman2 seangkatan yg masih menunggu untuk ACC semhas. Disitu juga ada senior saya bang Mario, bersama teman sata Ton, dan yang paling penting dari cerita ini adalah Andy Nur (cewe).Sebelum panjang lebar, ini bakal berkisah tentang pendidik, dan pengajar (pernah saya bahas di link ini)

a1MB9WD_460s_v1

Dulu Saya diceritakan tentang pahitnya penanggungjawaban ketika kerja praktik di PT. Pupuk Kujang, entah itu dampak lingkungan, Keselamatan kerja (sampai saya dimarah2in gegara helm safety ketinggalan), dan juga dampak sosial. Pada saat itu beliau (bukan pembimbing KP, hanya orang lapangan) mengeluhkan rendahanya kompensasi (aka. gaji)  jika dibandingkan tanggung jawabanya. Ya pada saat itu saya cuman nyengir kuda aja, maklum lah manusia ga ada puasnya.

Namun bukan itu intinya, beliau seolah mempertanyakan apa sih output PT (perguruan tinggi). Karna dia rasa yg terpenting hari ini adalah manusia yg siap kerja . Dan kebanyakan kata beliau para sarjana hanya ongkang2 kaki nyruh2 doang (fyi : bapaknya SLTA)

Dan kemarin timbul lagi keingintahuan saya tentang apa itu mendidik dan mengajar. Teman saya Andy sedang menjalankan TA mengenai Management Persampahan yg melingkupi 16 kecamatan, dan itu adalah WTF bgt menurut saya. Menelisik tugas akhir management persampahan yg biasanya dalam lingku paling banyak 1 kecamatan, mendengar 16 kecamatan membuat saya melotot dan lemas (iya dibandingin TA saya yg sebenernya lingkupnya kecil banget. Dan yg paling bikin ngeri adalah jumlah halamannya bro, untuk BAB V (pembahasan dan isi) 200 halama… Buat info aja, TOTAL ta saya aja (belum sama lampiran) baru setengahnya itu, dan denger lampirannnya nambah bikin sesek, 200 gambar dan excel A3 (hemhem).

Oke kita kalkulasiin kali A3-nya aja, selembar Rp.2000 dikonlah Rp. 1000, tinggal kali 200 x 4 exemplar (buat 2 dosen pembimbing + penguji). belum salah print, belum revisi, eng-ing-eng banget ga sih? Kalo saya? Modal printer patungan masing2 Rp 75.000 beli bekas Nicha, +beli kertas doang (hidup memang tak adil). Udah abis duit, abis waktu.

Tentu yg jadipermasalahan disini adalah “Standar pendidikan”. Bagi saya yg bebannya ringan (atau senior2 yg udah injury time) ga sebanding pekerjaannya jika dibandingkan dengan Andy yg menurut saya keterlaluan. Dan Dosen pengampu dengan kebijaksanaan memberi beban seperti kepada Andy adalah pak GSM.

Untuk informasi aja, pak GSM adalah sebenarnya dosen yg baik (menurut saya) karna dari beliau saya mendapat nilai tentang Disiplin, integritas , kesempurnaan dan DEADLINE. hahhaha.Seringkali membuat gebrakan, saya kira rasa kesal dan lelah terganti ketika kita bisa menyelesaikan  dan mengetahui btasan maksimum dan endurance / daya tahan dari kemampuan kita. Dar pak GSM saya tau kalo ada manusia yg tidur 2 jam / 48 jam. Dari pak GSM saya tau kalo dalam waktu 4 jam kita bisa melakukan apapun tanta terbatas . Intinya saya suka cara dia “mendidik”, tapi saya tidak suka cara dia “mengajar”. Cara ajar beliau penuh misteri, dan abu2. Teman saya diberi nilai D karena selaku Kordinator makul dia tidak bisa mengerjakan grafik EGL-MMDL (pelajaran perpipaan). Sadis! dan sampai sekarang saya ga tau grafik yg dianggap berner sama beliau itu seperti apa.

Balik Ke Andi, saya jujur jadi simpatik atas beban yg dia tanggung ( plus patnernya Puspa ), tapi toh TA memang sendiri2, dan saya ga bisa bantu juga (karna TA sendiri yg ringan aja keteteran). Saya kira Sifak Pak GSM masih sama, yg menurut penilaian saya beliau jago “mendidik” bukan “mengajar”. Andi mengeluhkan Tingginya beban dan sedikitnya clue atau petunjuk yg diberikan Pak GSM. Dengan waktu yg sedikit (minggu depan kayanya batas terakhir semhas, karna akhir bulan terakhir daftar sidang), saya cuman bisa mengharapkan yg terbaik buat teman saya ini.

Beda Andy, beda Toni dan bang Mario. Beliau dibimbing oleh orang yg paling unik menurut saya di jajaran dosen TL. Bagaimana tidak, beliau sempat menggaungkan “Revolusi Mental”, namun rasanya saya tidak melihat perubahan mental secara signifikan pada belau. beliau tetap jarang ke kampus, Revisi yg menurut orang2 berbelit (misal minggu lalu dah di ganti, trus setelah lewat, 3 minggu kemudian di baca lagi kemudian harus diganti lagi), kan gimana ya. Tentu skali lagi, “standarnya” berbeda dengan dosen lain. Saya tau masalah beliau . Konon katanya keluarganya sedang dirundung musibah yaitu penyakit. Namun saya pikir itu bukan jadi alasan untuk bertele-tele dan sulit untuk ditemui. Saya jadi bertanya2, apasih menurut beliau itu ttg revolusi mental?

Tentu saya bukan prak-nya (bahasa sundanya “bagian”) dari menilai, namun menulis (ga tau siapa yg baca) menjadikan kita sadar bahwa, engga semua memiliki paham yg sama tentang “mendidik” dan “mengajar”. Saya jadi ingat omongan DOSWAL saya kalo aneh rasanya absensi dosen, hanya setara uang makan. Lah itu memang kewajiban dosen untuk hadir di kamus, jika tidak apa pekerjaannya?

Untung musibah Teman dan abang saya engga nimpah juga ke saya. Kebetulan 2 pembimbing saya adalah orang yg pengertian dan mempermudah jalannya TA saya. Semoga kebaikan bersama kita.

 

Edo Susanto

5-18-2016 (pukul 12.18)

Tulisan yg bikin (hhmmm..)

Belakangan TA saya semakin tertinggal, namun aktifitas baca lumayan ningkat.Seperti biasa, berita, Kaskus, berita2 online, dll. Dan belakangan malah saya ikut buat Thread di Kasku, engga begitu laku, tapi adalah mungkin yg kepeleset sekedar baca atau komen2 ga jelas. Yang jelas saya menikmati “teman” (maya) saya, bercerita tentang pikirannya, atau informasi2 yg menurut saya keren dan bermamfaat bukan buat TA, wkwkkw

 

Saya juga “nyetok” cerita2 sebenernya, tapi karna TA belom selesai, terpaksa cuman jadi konsep, atau memori yg bakal saya simpen dan mungkin bakal lupa. Saya seneng banget sama wordpress, ternyata banyak orang2 disana punya profil, cerita, dan nilai2 moral yang tinggi.

Saya berharap juga dapat berbagi cerita (dengan ) baik, sehingga bisa bermanfaat buat yang baca, tapi menelisik tulisan2 sebelu tulisan ini, masih agak jauh rasanya buat mencapai level mereka.

aBYoVYA_460s_v3

Edo Susanto

3-5-2016 (pukul 09.14)