Merbabu Via Thekelan (Turun Selo)

Kemarin setelah menimbang bahwa kegiatan lumayan kosong saya memberanikan diri untuk naik gunung “sendiri”. Iya, sendiri, dan ini adalah pertama kalinya buat saya dimana biasanya saya melakukan perjalanan sama teman2 IPAL atau kawan lainnya.

Sedikit nekad, persiapan saya lakukan dalam waktu singkat. Perjalanan saya mulai pada 2 agustus 2016 dari semarang. Awal perjalanan saya lakukan setelah makan malam di semarang sekitar pukul 19.30, sampai 21.00. Pada awal niat saya, perjalanan ini akan berlangsung 2 Gunung skaligus yaitu Merbabu dan Merapi, karna kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya saya memuaskan diri dengan hanya sampai turun di Selo.

2 Agustus 2016

Semarang – Base Camp Thekelan ( 19.30 – 21.00)

Perjalanan relatif cepat, walau agak ngeden pas tanjakan, hehhe maklum motor dah kebanyakan dipake nanjak, setelah sampai, melakukan registrasi dengan membayar Rp.18.000 (15.000 registrasi, 3000 parkir motor). Sempat agak diragukan oleh pihak basecamp karena melakukan perjalanan sendiri, namun saya bilang sudah lumayan sering dan sudah hapal jalan (fyi : ini perjalanan ke 4 saya)

Pos 1 Pending (21.00-22.00)

Perjalanan ditempuh dengan waktu standar, sesuai dengan petunjuk yang diberikan pihak basecamp. Tipikal jalan bebatuan rapi dan merupakan jalan bagi petani, stelah beberapa ratus meter, mulai masuk vegetasi pepohonan tinggi dengan pohon akasia dan pinus. Perjalanan terasa berat, mengingat logistik bawanya banyak banget. Disini tersedia air untuk bekal, namun saya masi belum mengisi air disini.

IMG_20160802_214916[1]

Pos 2 Pereng Putih (22.00-23.00)

Stelah pos 1 medan semakin bervariasi dengan tanjakan dan turunan. Petunjuk relatif membantu karena banyak juga jalan2 yg bukan menuju ke puncak (biasanya digunakan warga untuk mencari kayu bakar). Dari pos pereng putih kita bisa melihat pemandangan lampu kota, terutama bagian Kopeng. Disini juga tersedia shelter untuk istirahat dan ngecamp, mungkin cukup untuk 5-6 tenda.

IMG_20160802_224415[1]

Pos 3 Pos air (23.00-00.00)

Perjalanan menuju pos 3 semakin menantang. jalan yang relatif hanya menyusuri tebing cukup membuat kita harus waspada. Dengan sebelah kanan dari jalan jurang, kehati-hatian menjadi kunci dari keselamatan. Pada perjalanan menuju pos 3 ini banyak jalan yang rusak akibat longsoran. Perjalanan ini pun dapat diikuti kemana arahnya degan mengikuti jalur pipa yang dibuat oleh warga. Sampai di pos 3, saya langsung menambah cadangan air minum saya (mungkin sekitar 6 liter), makan mengisi tenaga, lalu melanjutkan perjalanan.

3 Agustus 2016

Pos 4 Lapangan (00.00 – 01.00)

Setelah perjalanan tadi merupakan penyusuran tebing, perjalanan pos 4 relatif lebih aman. Vegetasi mulai berubah menjadi semak dengan pohon tinggi yang jarang. Perjalanan realtif lancar, namun tenaga mulai berkurang karena sudah cukup jauh berjalan dan beban yang semakin bertambah. Tanjakan relatif lebih sadis, namun masih dapat bedamai dengan istirahat. Setelah sampai saya injeksi tenaga kembali dengan makanan dan gula merah, setelah siap, perjalanan  dilanjutkan.

IMG_20160803_003626[1]

Pos 5 / Puncak watu gubuk (01.00 – 02.00)

Medan semakin berat dan nanjak ditambah vegetasi yang semakin jarang. Pada titik ini angin semakin kencang, dan dingin. Beberapakali kewalahan dan istirahat cukup lama. Tanjakan sadis namun masih bisa dilalui. Ada 2 tipe jalan yang bisa dipilih, yaitu jalan seperti jalur air, atau tipe rerumputan. Sampai diwatu gubuk, istirahat tidak terlalu lama karena cuaca semakin dingin.

Puncak 2 Watu tulis / Pemancar (02.00 – 03.00)

Pemandangan semakin terbuka, dan semakin jarang vegetasi. Mulai muncul Eldeweis (Anaphalis Javanicus) dan makin tanpa ampun tanjakan. lambat laun sampai juga di pemancar.Sempat bertemu orang dari Sragen, mengaku dari jalur Thekelan juga, namun belum melakukan registrasi (karena pas di basecamp yg terdaftar berangkat pada hari itu cuman saya), sedikit ngobrol sekaligus istirahat sejenak, namun tidak berlama2 langsung berangkat kembali.

 

Pertigaan syarif (03.00-05.00)

Stamina makin turun, namun jalan maikin greget. biasanya break yg saya lakukan engga lebih dari 2 menit, belakangan makin lama. Jalur makin engga ramah, setiap 6 langkah badan dah nuntut buat ngaso, tapi klo makin lama istirahat makin dingin. Injeksi berupa makanan  dan gula dah dilakukan, apa daya beban yg terlanjur berat memaksa tempo perjalanan makin lambat.

Puncak Kenteng Songo (05.00-06.00)

Sebenernya klo engga terlau bawa beban gini mungkin ini urusan 20 menit, tapi karena dah cape parah jadinya sejam, hahahah. Perjalanan lancar, ngaso banyak, ketemu dengan Ranger  Guci, yg lagi jalan2 di sini. Setelah istirahat, foto, dll, saya melanjutkan turun ke sabana 2 Jalur Selo

IMG_20160803_054708[1]
Muka dah kacau + ngantuk

Sabana 2 (06.30 – 07.30)

Kaki mulai kerasa geter akibat kurang makan dan kurang tidur. Jalur kaga manusiawi, cuman berupa kaya selokan, mungkin udah masuk kateguri rusak banget. Bagi yg seneng cepet bisa nyeret sepatu ngeluncur gtu, tapi resiko sepatu cepet ancur.

IMG_20160803_061929[1]
ini ada eldeweis juga
Istirahat (07.30-10.30)

Sebenernya ini waktu yg lama buat istirahat, tapi karna judulnya jalan sendiri, jadi ribetnya sendiri, engga bagi2. Udah cape, buka tenda sendiri, masak sendiri, jomblo pula (apaan dah, hahah). Rencana buyar. Rencana mau bikin omelet mie pake nasi, namun gagal total. Mals masak nasi, akhirnya jadi migoreng sosis. Kelar masak jam 9 dah cape coba tidur. istirahat engga lama karena dah panas, mulai rapi2 dan bersih2. jam setengah sebelas siap berangkat!!!!

Sabana 1 (10.30-11.00)

Jalan relatif cepet, tapi jalur dan kaki makin engga bersahabat. Jalur mungkin dulunya bagus, tapi tangga tanah buatan manusia makin kekikis, jadi pas turun bikin dengkul kerja keras nahan beban badan dan bawaan.

Pos 4 (11.00-11.30)

Kaki dah pegel, disin i ketemu banyak orang, dari rombongan jogja, rombongan UNJ, saya barengan ama mereka, dan badan dah mulai cape. Setelah ngaso dan sempet galau pilih jalur mana, dipilih jalur lama (fyi ada jalur baru dan cabangnya di pos 3 ini).

Pos 3 (12.00-12.30)

Karena jalan sama Daun jiwa muda anak2 tadi, kita jadi ikut jalan bareng. Ke pos 3 relatif ncepat dan memang dekat. Dari pos 4 pun memang sudah terlihat. Vegetasi mulai ramai dengan semak belukar, setelah sebelumnya hanya sabana dan pandang terbuka.

Pos 2 (12.30 – 13.15)

Mulai ngeluh, kaki dah makin lemes dan satu kesalahan, lupa makan!!

Pos 1 (13.15-14.00)

Lemes dan isinya ngeluh. Semakin tertutup vegetasi dengan pohon yg relatif besar. Kaki dah parkinson, hahah

Basecamp (14.30.15.00)

Cape, lapar, ngantuk. Sempet tidur di jalan sekitar 5 menit per istirahat. ini perjalanan yg paling jelek. Kurang istirahat, makanan kurang gizi. Akhirnya samapai basecamp di Pak Bari. Langsung mesen makan sama es teh, ntaps, hahhaha. Diketawain sama bocah UNJ, setelah jam 4 berpisah mereka melanjutkan liburan di jogja. Kita mandi ngobrol sama orang2, ketemu sama bang ucok, dan bang anwar yg merupakan warga bogor, dan menjadi patner pulang esok harinya.

Tidur panjang (19.00-07.00)

4 Agustus 2016

bangun, langsung mesen makan sama teh anget. Ngobrol soal naik ojek atau nyewa, akhirnya ketemu sama bang tompel dan bang regi, keduanya mau lanjut ke dieng culture festival, di dieng.

09.00 (pulang)

Turun ke boyolali dengan mobil sewaan, bayar 250.000 dan worth it karena jauhnya minta ampun, masing2 kita bayarb 50.000. mMakan siang dan jam 11.00 misah. Saya mas tompel, mas regi menuju Utara, Bang anwar, bang ucok menuju Kartasuro, untuk menuju Jogja. Saya berhenti di Pasar Sapi, Salatiga, sedangkan keduanya lanjut Bawen, Ambarawa untuk lanjut ke Wonosobo. Saya lanjut ke thekelan, karena motor, kemudian bayar ongkos 10.000 untuk ke kopeng. Lanjut Thekelan dengan ojeg 15.000. Kemudian langsung semarang, dan tidur. hehhehe

IMG_20160804_092909[1]
Keterangan dari kiri ke kanan : saya, Regi, Ucok, Tompel, Anwar

Edo Susanto
10 Agustus (pukul 17.00)