Menjadi Utuh

Tulisan ini disedikasikan untuk teman, saudara, musibah dari diksar mahasiswa UII Yogyakarta di Gunung Lawu. Saya mengucapkan belasungkawa yg terdalam untuk keluarga korban, semoga ayah, ibu, dan keluarga dapat bertahan dan sabar menghadapi musibah ini.

Sebenarnya saya segan untuk berkomentar atau menyikapi musibah yg menimpa kawan kita disana, mengingat kapasitas yang saya punya sebagai “eks” mapala sangatlah minim. Apalagi ttg ilmu kepecintaalaman, contohnya teknik survival, manajemen perjalanan, menejemen ekspedisi, tali-menali, navigasi darat, serta ilmu2 lain yang kadang saya saja masih bodoh untuk melakukan dan menjelaskannya. Juga cara untuk mendidik dalam hal ini adik2 penerus organisasi yg sering kita sebut organisasi Mahasiswa Pecinta Alam.

Sebenernya saya enggan menulis, dan saya juga enggan membaca berita2 mengenai hal tersebut. Namun biarlah, kita harus hadapi dan maknai, bahwa hari ini, dunia sudah berubah.

Ketika kuliah di jurusan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, saya diperkenankan masuk organisasi yg bernama IPAL ( Ikatan Pecinta Alam Lingkungan ) tahun 2012. Banyak hal masih dilakukan secara sederhana, mulai dari recruitmen, pendidikan (kaderisasi), sampai dengan keanggotaan. Saya memulai naik gunung saya dengan sepatu campus jenis kate, tas ngampus, juga jaket alakadarnya, yg penting paling tebel. Saya dan kawan2 di temani anggota melaksanakan latihan fisik ringan, hemm sangat ringan. Hanya berlari kurang dari 500m, dan series fisik lainnya seperti push up, sit up yg terbilang ringan pada saat itu. Ijin? Saya engga ijin waktu itu. Syukur, dengan kesederhanaan itu, kami diijikan pulang dengan selamat, mamun banyak bagian tubuh cedera dan kelelahan
Pada kesempatan kedua, kami berkesempatan untuk memenejemen perjalanan kami sendiri. Seorang teman yg pernah ikut mapala yg lebih serius di mapala universitas menyarankan bahwa segalanya harus lebih serius. Beban latfis ditambah, jogging kami 15 menit, gerakan kami ditambah naik turun tangga dan pundak. Jumlah series jadi 3. Tapi, hal ajaib terjadi. Dalam perjalanan kami ke Gunung Lawu, kami jauh lebih nyaman dengan lama hampir 3x dari gunung pertama kami ungaran. Peralatan kami diperlengkap. Syukur, kami selamat dan nyaman. Cidera bisa kami minimalisir, dan perjalanan jadi tertata dan menyenangkan.

Generasi saya sadar bahwa kami butuh perubahan. Dalam kepengurusan kami, akhirnya kami mencoba untuk merubah dasar rekrutmen anggota. Sebelumnya tidak pernah ada diksar, kami laksanakan diksar (pendidikan dasar) yaitu pendidikan dasar ruang, dan pendidikan dasar lapangan. Karena sumberdaya kami masih blank (dibaca bodoh) hanya ada 1 orang dari generasi kami yg pernah ikut diksar, kami meminta bantuan dari mapala tetangga yaitu Mapateksi (mapala sipil), Oksigen 16 (mapala tekim) dan Wapalhi (politeknik negeri semarang) untuk mengisi sesi ruang. Dan sesi lapangan kami.mensurvei tempat, mengurus ijin (desa peromasan), dan survei ermegency.

Dan syukur, semuanya berjalan lancar dengan TANPA KEKERASAN, dalam hal ini intimidasi fisik seperti pemukulan, tampar, dsb.

Prinsip dari diksar lapangan yg kami laksanakan adalah membiarkan adik2 belajar bersama alam. Semua bahan yg didapat dari diksar ruang, “di uji” dengan praktik langsung. Tentu ada punisment, tetapi juga ada reward. Stamina memang kami uji juga, karena naik gunung itu memang bukan “wisata”. Naik gunung itu seperti olahraga ekstrem lainnya, ada beberapa hal yg dibutuhkan yaitu fisik, ilmu, dan alat. Kami sebagai kakak yg mempunyai adik yg memiliki hobi sama merasa wajib mewariskan 2 hal, yaitu ilmu dan fisik. Tapi syukur, 2 hal itu skali lagi tak diiringi dengan kekerasan.
Naik gunung itu butuh fisik yg prima, mental yg kuat diiringi ilmu yg benar, serta alat yg dapat menunjang semuanya. Tapi memukul bukan solusi “memperkeras” mental. Dulu selama menyusun kurikulum rekruitmen teman saya sempat ingin menysipkan kekonyolan yaitu aksi kekerasan, katanya agar sama dengan mapala lain. Namun sebagian besar kami menolak, karena tidak ada faedahnya. Kami membentak, kami memaksa adik kami lari, kami membiarkan adik kami lapar dan haus, tapi tak pernah membuat mereka babak belur. Kami menyediakan tim medis dan plan emergency. Kami menyediakan tempat diksar yg dapat menyediakan makanan dan minuman yg cukup. Kami menyediakan makanan dan suplemen tambahan, karena tidak semuanya di dapat dari alam.

Dalam surat perjanjian memang tertulis jika ada kecelakaan adalah tanggungjawab pribadi. Namun pemukulam bukanlah kecelakaan. Stop kekerasan fisik pada diksar lapangan, karena itu bisa membahayakan. Mungkin kakak2 dulu memasukan kurikulum itu agar kita siap dalan kondisi apapun termasuk cedera agar bisa bertahan dengan kondisi ekstrem, namun zaman sudah berubah.

Pemuda hari ini tidak seaktif masa lampau. Pemuda kini bukan orang yg kemana2 jalan. Bukan orang yg nimba air untuk mandi. Kondisi alam sekarang juga berubah. Jalur sudah semakin jelas, alat audah semakin canggih, ilmu juga sudah dapat dari mana2 termasuk internet.

Ijinkan saya untuk menyajikan pernyataan dari pendiri IPAL yaitu Mas Khusnul untuk IPAL :


Kesedihan, air mata, dan rasa kesal terdengung ketika musibah ini terjadi, namun ingat, jangan jadikan hal ini menjadi pembekuat kegiatan mapala di dalam kampus. Bagi saya lebih baik disediakan wadah yg baik, dimana mereka ditempa dan di didik, daripada mereka berangkat sendiri tan terdidik. Akan makin banyak kecelakaan di alam bebas tanpa edukasi yg cukup, karena bagi saya pendidikan akan menjadikan kita, mahasiswa pecinta alam akan lebih utuh. Kuat secara mental dan fisik, dan peduli dan peka terhadap perubahan lingkungan dan masyarakat. Karena kami mapala, mahasiswa yg mencintai alam dan semesta.

Nb : maap jika membosankan, maklum kurang materi dan kurang menulis

Salam

Edo Susanto

Cikampek, 28 januari 2017 (pukul 00.14)

Iklan