Dejavu ( maha benar, dan maskulinitas )

Tulisan ini adalah buah keresahan.
Dinihari produktif sebenernya, salah jam tidur akhirnya terjaga nyampe jam segini. Tulisan ini tertanam dalam draf saya, sehingga tiba2 iseng buka aplikasi wordpress dan ada remainder untuk menulis, terutama judul tulisan ini.

Tulisan ini tak bermaksud menyudutkan kelompok, golongan, agama, maupun aliran tertentu. Hanya bentuk dari pandangan dari pengangguran yg ingin produktif.

Beberapa waktu lalu (sampai sekarang), Republik ini terguncang keras. Gerakan masiv terjadi di jakarta. Rakyat tergerak dengan Aksi Bela Islam . Kejadian ini terjadi beberapa kali, hingga tersebutlah jilid I, II, III, IV, dst.beberapa aksi terlihat sepi, namun ada 2 gerakan masiv terjadi, yaitu kerakan 211, dan 212. Tv tak habis2nya memberitakan, saya yg merupakan salah satu penikmat tv sampai  geremet gara2 seringnya berita tersebut muncul. Apalagi si aksi 211, sempat terjadi kerusuhan karena presiden Jokowi tak mau menemui massa, dan hingga malam, massa tak membubarkan diri, dan polisi bertindak tegas.

Tak selesai disitu, aksi masa lebih besar hadir di 212. Diadakan sholat jumat bersama, yg awalnya ingin menutupi jalan protokol jakarta. Akhirnya batal dan dipindahkan ke monas, dan konon, 7 juta manusia hadir disana. Syukur, aksi ke 2 yg isunya rusuh, berjalan aman, lancar, dan damai.

Aksi gerakan masaa ini memang gara2 ahok , salah ucap, dan membuat terainggung umat islam karena menyinggung surat al-maidah 53 . Ahok melakukan tindakan yg dianggap mengina ulama, dan kitab suci al-quran. Anjuran ulama memilih pemimpin seiman, membuat ahok bertindak lebih agar bisa terpilih kembali, dan berbuah ucapan yg menyinggung banyak orang.

Pada saat itu, banyak sekali konflik yg terjadi, dari teman2 yg provokatif, mendominasi, dan juga menyebarkan konten2 berhubungan dengan aksi. Mendukung namun tak turun. Banyak dari teman saya dimasa kuliah baik senior, sejabat, dan yunior tiba2 muncul dengan statmen islami namun menghujat, dengan kampanye atau ujaran yg membekas dipikiran saya #tolakpemimpinkafir. Jujur pada saat itu saya sakit hati, mengingat saya ini termasuk kaum minoritas yg tentu ingin berkontribusi untuk negara. Ingin memimpin dan jadi pemimpin untuk negeri ini. Saya jadi merasa senasib dan sepenanggungan dengan apa yg dirasakan ahok.

Beberapa kali saya menyindir temen2 saya di forum angkatan, status mereka dsb, dengan menunjukan bahwa “ngaca woi, munafik”. Intinya saya merasa “apa yg salah, saya minoritas, apakah saya tidak boleh berkontribusi yerhadap negara?”. Rasa kebencian itu hadir, dan terus menerus meracuni, hingga beberapa kawan ada yg menegur langsung, maupun melalui kawan, dan ada juga yg left. Disitulah titik balik. Kawan yg baik, yg banyak membantu di tugas akhir, left dari grup. Saya langsung telepon dia,dan berbincang. Dia tak pernah menshare apapun mengenai aksi, namun ternyata ia mengikuti dan ikut aksi tersebut. Dari titik ini saya berhenti untuk menyindir, saya lebih banyak diam.

Kemudian kasus ahok terus berjalan, hingga mencapai persidangan. Beliau mempertanyakan, kenapa mereka2 (MUI) tidak tabayun atau mengkonfirmasi balik kepada dirinya, namun langsung menetapkan sikap keagamaan yg hebatnya baru pertama kali dikeluarkan oleh mereka. Jawabannya singkat, “tersangka tidak perlu di tabayun karena sudah jelas”. Seingat saya seperti itu. Ahok sempat langsung meminta maaf, bamun gerakan masiv terlanjur terjadi, karena memang ahok dianggap bersalah oleh MUI. Dalam sidang juga ahok menuduh rais raam NU dan ketua MUI (klo ga salah), KH Maarif yg merupakan mantan staf kepresidenan di era SBY untuk mengakui bahwa sikap keagamaan tersebut adalah “pesanan” dari sby agar anaknya yg mencalon di pilkada DKI bisa mulus (katanya). Hal ini membuat murka lagi rakyat. Duh, ahok2, pusing, ni orang ngajak ribut mulu.
Namun dibalik curhat yg panjang lebar ini, sebenarnya ada kejadian unik yg terjadi di pihak lawan ahok. Habis Riziq Shihab, yg merupakan tokoh protagonis yg merupakan ketua dari Front Pembela Islam (FPI) Dan juga pimpinan besar aksi massa bela islam “Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI” (GNPF MUI). Sosoknya yg keras menjadi magnet besar, antar dibenci dan dicintai. Setelah terkenal sebagi organisasi “penegak” agama di masa menjelang puasa, dimana biasanya dibenci, kini hadir dengan wadah protagonis.

Namun sial, beliau tersandung kasus. Memang terkesan dipaksakan, mengingat dia adalah simbol dari GNPF MUI sendiri yg membuat negara pusing. Kasus yg menyandungnya adalah “Penistaan Pancasila”. Kalo kata saya, ini benar2 nasib sial. Dilaporkan oleh Rahmawati Soekarno putri, dalam cuplikan video yg saya pernah liat, HRS menyatakan bahwa pancasila Soekarno (yg dipakai skrg) adalah pancasila dipantat, pancasila sebenarnya adalah pancasila piagam jakarta. Nah, sebenernya lupa2 inget, mohon dicari tahu sendiro saja. 

Hal lucu terjadi. Beliau menyatakan jumpa pers, dan menyatakan kenapa tidak melakukan tabayun dulu? Kenapa langsung melaporkan polisi? Hemmm

Kemudian kasus bergulir, masuk keranah penyidikan. Setiap waktu tersebut bawa masa ratusan dan bikin macet. Sempet mangkir, karena pilkada DKI. Hemmm. 

Saya teringat ketika semasa kuliah. Ada dua jurusan yg rasio laki2nya tinghi di teknik, jurusan A dan jurusan B. Jurusan B sih asik, walau banyak laki2, gak sok, dan sportif. Jurusan A yg paling unik. Suatu ketika, diadakan pekan olahraga akbar dan saya dipaksa terlibat, karena memang keterbatasan laki2. Dan hadirlah jurusan A dan B di final. Di pekan olahraga sebelumnya sudah jatuh korban di pihak B. Saya sudah diwanti2 agar memisahkan 2 kelompok ini. Suatu ketika di final futsal tersebut dimulai, mulailah yel2 dukungan. Suporter A melakukan intimidasi dengan menyebutkan kebun binatang. B walau sakit hati, tetap menahan, dan fokus untuk mendukung, tanpa menghujat pemain ataupun suporter lawan. Pertandingan memanas, tim B unggul, dan suporter B mulai konyol dengan “maskot” yg menari2. Tak suporter A mengeluarkan kebun binatang sambil menunjuk2 masot tersebut. Tak diam, mulailah A menyerang. Kalah dan rusuh. Apes ada di tengah2 buat ngelerai. Mayan ditendang2 sama di ludah. Terjadi kerusuhan besar hingga meluber ke jalanraya. Polisi hingga didatangkan, bintara yg jumlahnya 2 orang tak sanggup melerai, ckckkx.

Akhirnya, bem fakultas menengahi, ketua panitia yg merupakan teman saya di t**2, di gobl**2, dianggap tak becus dll. A yg ngerusuh duluan tak terima disalahkan, dan menganggap B beserta panitia salah. “Wes pikoe koe salah, aku sing bener”. Kan bajing** yak, wkwk. Karena B dan panitia waras, yo ngalah. Memang kami kurang maskulin dan sekuat mereka.

Kejadian tersebut membekas dalam, dan membuat saya sadar bahwa primitivitas gak ilang di bangku kuliah. Karena hal itu saya pikir hanya terjadi di smk daerah, nyatanya orang yg ngakunya terdidik, otaknya jebluk juga, wkwkw.

Dalamnya hal tersebut nyatanya terasa de javu bagi saya, ketika HRS melakukan pernyataan2 untuk di tabayun, atau membawa masa ke polres jabar. Gerakannya sama, pengerahan masa dan keras. Ga tau dah, nyampe garuk2 pala juga, wkwk.

Maap penjelasannya ga nyambunh, memang intinya cuman dikit, tapi semoga jadi buah yg baik kedepannya.
Edo Susanto

10 maret 2017 (pukul 04.46)