Manusia 90 juta

Ketika awal menandatangani surat kontrak dengan PLN, tertera angka 90 juta sebagai denda atau bahasa kerennya pinalty bagi orang2 yg ingin keluar dari perjajian tersebut.

Dengan ikhlas dan mantap, surat tersebut saya tanda tangani, toh memang niat untuk bekerja, dan juga mengabdi untuk negara. Silih berganti hari, masuklah saya kedalam proses pendidikan, corporate university namanya, atau udiklat (unit pendidikan dan pelatihan) perusahaan bahasa lokalnya. Hari berganti hari, rasa sadar datang, keinginan menambah harga dari diri yg dihargai 90 juta hadir. Dengan perantara onlne shoping, terjadilah transaksi jual beli, belasan buku dibeli dan dibaca. Rasa sombong timbul karena merasa sudah tau.

Tiba hari pengumuman, nasib membawa menuju tanah perantauan, Sulawesi Selatan. Tak ada teman, tak ada saudara. Bosan tiap hari dengan rutinitas perjalanan pulang dan pergi yang jaraknya puluhan kilometer. Sombong itu tumbuh, dan dia hadir dengan nyaman.

Nyatanya 90 juta hanyalah angka diatas kertas, kenyataannya, saya belum selayak itu. Ketika ditanya UU apa saja yg berhubungan dengan pekerjaan hanya terbengong. Diberi pekerjaan, berlari pelan. Astaga.

 

Tuhan terimakasih atas kesadaran, berikan lebih dan rasa syukur yg lebih dalam atas semuanya. Semoga semuanya selesai, sesuai niat awal, mengabdi kepada negara. Dan jadikanlah hamba layak.

Iklan