Bersandar sejenak

Akan selalu ada yang kalah, dan akan selalu ada pemenang

Terimakadih untuk makna, dan pantulan panduan dalam kebenaran.

Kebenaran bukan akan selalu menang, mati satu tumbuh seribu

Tuhan beserta kita, entah itu Tuhanmu, atau Tuhanku

Iklan

Dejavu ( maha benar, dan maskulinitas )

Tulisan ini adalah buah keresahan.
Dinihari produktif sebenernya, salah jam tidur akhirnya terjaga nyampe jam segini. Tulisan ini tertanam dalam draf saya, sehingga tiba2 iseng buka aplikasi wordpress dan ada remainder untuk menulis, terutama judul tulisan ini.

Tulisan ini tak bermaksud menyudutkan kelompok, golongan, agama, maupun aliran tertentu. Hanya bentuk dari pandangan dari pengangguran yg ingin produktif.

Beberapa waktu lalu (sampai sekarang), Republik ini terguncang keras. Gerakan masiv terjadi di jakarta. Rakyat tergerak dengan Aksi Bela Islam . Kejadian ini terjadi beberapa kali, hingga tersebutlah jilid I, II, III, IV, dst.beberapa aksi terlihat sepi, namun ada 2 gerakan masiv terjadi, yaitu kerakan 211, dan 212. Tv tak habis2nya memberitakan, saya yg merupakan salah satu penikmat tv sampai  geremet gara2 seringnya berita tersebut muncul. Apalagi si aksi 211, sempat terjadi kerusuhan karena presiden Jokowi tak mau menemui massa, dan hingga malam, massa tak membubarkan diri, dan polisi bertindak tegas.

Tak selesai disitu, aksi masa lebih besar hadir di 212. Diadakan sholat jumat bersama, yg awalnya ingin menutupi jalan protokol jakarta. Akhirnya batal dan dipindahkan ke monas, dan konon, 7 juta manusia hadir disana. Syukur, aksi ke 2 yg isunya rusuh, berjalan aman, lancar, dan damai.

Aksi gerakan masaa ini memang gara2 ahok , salah ucap, dan membuat terainggung umat islam karena menyinggung surat al-maidah 53 . Ahok melakukan tindakan yg dianggap mengina ulama, dan kitab suci al-quran. Anjuran ulama memilih pemimpin seiman, membuat ahok bertindak lebih agar bisa terpilih kembali, dan berbuah ucapan yg menyinggung banyak orang.

Pada saat itu, banyak sekali konflik yg terjadi, dari teman2 yg provokatif, mendominasi, dan juga menyebarkan konten2 berhubungan dengan aksi. Mendukung namun tak turun. Banyak dari teman saya dimasa kuliah baik senior, sejabat, dan yunior tiba2 muncul dengan statmen islami namun menghujat, dengan kampanye atau ujaran yg membekas dipikiran saya #tolakpemimpinkafir. Jujur pada saat itu saya sakit hati, mengingat saya ini termasuk kaum minoritas yg tentu ingin berkontribusi untuk negara. Ingin memimpin dan jadi pemimpin untuk negeri ini. Saya jadi merasa senasib dan sepenanggungan dengan apa yg dirasakan ahok.

Beberapa kali saya menyindir temen2 saya di forum angkatan, status mereka dsb, dengan menunjukan bahwa “ngaca woi, munafik”. Intinya saya merasa “apa yg salah, saya minoritas, apakah saya tidak boleh berkontribusi yerhadap negara?”. Rasa kebencian itu hadir, dan terus menerus meracuni, hingga beberapa kawan ada yg menegur langsung, maupun melalui kawan, dan ada juga yg left. Disitulah titik balik. Kawan yg baik, yg banyak membantu di tugas akhir, left dari grup. Saya langsung telepon dia,dan berbincang. Dia tak pernah menshare apapun mengenai aksi, namun ternyata ia mengikuti dan ikut aksi tersebut. Dari titik ini saya berhenti untuk menyindir, saya lebih banyak diam.

Kemudian kasus ahok terus berjalan, hingga mencapai persidangan. Beliau mempertanyakan, kenapa mereka2 (MUI) tidak tabayun atau mengkonfirmasi balik kepada dirinya, namun langsung menetapkan sikap keagamaan yg hebatnya baru pertama kali dikeluarkan oleh mereka. Jawabannya singkat, “tersangka tidak perlu di tabayun karena sudah jelas”. Seingat saya seperti itu. Ahok sempat langsung meminta maaf, bamun gerakan masiv terlanjur terjadi, karena memang ahok dianggap bersalah oleh MUI. Dalam sidang juga ahok menuduh rais raam NU dan ketua MUI (klo ga salah), KH Maarif yg merupakan mantan staf kepresidenan di era SBY untuk mengakui bahwa sikap keagamaan tersebut adalah “pesanan” dari sby agar anaknya yg mencalon di pilkada DKI bisa mulus (katanya). Hal ini membuat murka lagi rakyat. Duh, ahok2, pusing, ni orang ngajak ribut mulu.
Namun dibalik curhat yg panjang lebar ini, sebenarnya ada kejadian unik yg terjadi di pihak lawan ahok. Habis Riziq Shihab, yg merupakan tokoh protagonis yg merupakan ketua dari Front Pembela Islam (FPI) Dan juga pimpinan besar aksi massa bela islam “Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI” (GNPF MUI). Sosoknya yg keras menjadi magnet besar, antar dibenci dan dicintai. Setelah terkenal sebagi organisasi “penegak” agama di masa menjelang puasa, dimana biasanya dibenci, kini hadir dengan wadah protagonis.

Namun sial, beliau tersandung kasus. Memang terkesan dipaksakan, mengingat dia adalah simbol dari GNPF MUI sendiri yg membuat negara pusing. Kasus yg menyandungnya adalah “Penistaan Pancasila”. Kalo kata saya, ini benar2 nasib sial. Dilaporkan oleh Rahmawati Soekarno putri, dalam cuplikan video yg saya pernah liat, HRS menyatakan bahwa pancasila Soekarno (yg dipakai skrg) adalah pancasila dipantat, pancasila sebenarnya adalah pancasila piagam jakarta. Nah, sebenernya lupa2 inget, mohon dicari tahu sendiro saja. 

Hal lucu terjadi. Beliau menyatakan jumpa pers, dan menyatakan kenapa tidak melakukan tabayun dulu? Kenapa langsung melaporkan polisi? Hemmm

Kemudian kasus bergulir, masuk keranah penyidikan. Setiap waktu tersebut bawa masa ratusan dan bikin macet. Sempet mangkir, karena pilkada DKI. Hemmm. 

Saya teringat ketika semasa kuliah. Ada dua jurusan yg rasio laki2nya tinghi di teknik, jurusan A dan jurusan B. Jurusan B sih asik, walau banyak laki2, gak sok, dan sportif. Jurusan A yg paling unik. Suatu ketika, diadakan pekan olahraga akbar dan saya dipaksa terlibat, karena memang keterbatasan laki2. Dan hadirlah jurusan A dan B di final. Di pekan olahraga sebelumnya sudah jatuh korban di pihak B. Saya sudah diwanti2 agar memisahkan 2 kelompok ini. Suatu ketika di final futsal tersebut dimulai, mulailah yel2 dukungan. Suporter A melakukan intimidasi dengan menyebutkan kebun binatang. B walau sakit hati, tetap menahan, dan fokus untuk mendukung, tanpa menghujat pemain ataupun suporter lawan. Pertandingan memanas, tim B unggul, dan suporter B mulai konyol dengan “maskot” yg menari2. Tak suporter A mengeluarkan kebun binatang sambil menunjuk2 masot tersebut. Tak diam, mulailah A menyerang. Kalah dan rusuh. Apes ada di tengah2 buat ngelerai. Mayan ditendang2 sama di ludah. Terjadi kerusuhan besar hingga meluber ke jalanraya. Polisi hingga didatangkan, bintara yg jumlahnya 2 orang tak sanggup melerai, ckckkx.

Akhirnya, bem fakultas menengahi, ketua panitia yg merupakan teman saya di t**2, di gobl**2, dianggap tak becus dll. A yg ngerusuh duluan tak terima disalahkan, dan menganggap B beserta panitia salah. “Wes pikoe koe salah, aku sing bener”. Kan bajing** yak, wkwk. Karena B dan panitia waras, yo ngalah. Memang kami kurang maskulin dan sekuat mereka.

Kejadian tersebut membekas dalam, dan membuat saya sadar bahwa primitivitas gak ilang di bangku kuliah. Karena hal itu saya pikir hanya terjadi di smk daerah, nyatanya orang yg ngakunya terdidik, otaknya jebluk juga, wkwkw.

Dalamnya hal tersebut nyatanya terasa de javu bagi saya, ketika HRS melakukan pernyataan2 untuk di tabayun, atau membawa masa ke polres jabar. Gerakannya sama, pengerahan masa dan keras. Ga tau dah, nyampe garuk2 pala juga, wkwk.

Maap penjelasannya ga nyambunh, memang intinya cuman dikit, tapi semoga jadi buah yg baik kedepannya.
Edo Susanto

10 maret 2017 (pukul 04.46)

Menjadi Utuh

Tulisan ini disedikasikan untuk teman, saudara, musibah dari diksar mahasiswa UII Yogyakarta di Gunung Lawu. Saya mengucapkan belasungkawa yg terdalam untuk keluarga korban, semoga ayah, ibu, dan keluarga dapat bertahan dan sabar menghadapi musibah ini.

Sebenarnya saya segan untuk berkomentar atau menyikapi musibah yg menimpa kawan kita disana, mengingat kapasitas yang saya punya sebagai “eks” mapala sangatlah minim. Apalagi ttg ilmu kepecintaalaman, contohnya teknik survival, manajemen perjalanan, menejemen ekspedisi, tali-menali, navigasi darat, serta ilmu2 lain yang kadang saya saja masih bodoh untuk melakukan dan menjelaskannya. Juga cara untuk mendidik dalam hal ini adik2 penerus organisasi yg sering kita sebut organisasi Mahasiswa Pecinta Alam.

Sebenernya saya enggan menulis, dan saya juga enggan membaca berita2 mengenai hal tersebut. Namun biarlah, kita harus hadapi dan maknai, bahwa hari ini, dunia sudah berubah.

Ketika kuliah di jurusan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, saya diperkenankan masuk organisasi yg bernama IPAL ( Ikatan Pecinta Alam Lingkungan ) tahun 2012. Banyak hal masih dilakukan secara sederhana, mulai dari recruitmen, pendidikan (kaderisasi), sampai dengan keanggotaan. Saya memulai naik gunung saya dengan sepatu campus jenis kate, tas ngampus, juga jaket alakadarnya, yg penting paling tebel. Saya dan kawan2 di temani anggota melaksanakan latihan fisik ringan, hemm sangat ringan. Hanya berlari kurang dari 500m, dan series fisik lainnya seperti push up, sit up yg terbilang ringan pada saat itu. Ijin? Saya engga ijin waktu itu. Syukur, dengan kesederhanaan itu, kami diijikan pulang dengan selamat, mamun banyak bagian tubuh cedera dan kelelahan
Pada kesempatan kedua, kami berkesempatan untuk memenejemen perjalanan kami sendiri. Seorang teman yg pernah ikut mapala yg lebih serius di mapala universitas menyarankan bahwa segalanya harus lebih serius. Beban latfis ditambah, jogging kami 15 menit, gerakan kami ditambah naik turun tangga dan pundak. Jumlah series jadi 3. Tapi, hal ajaib terjadi. Dalam perjalanan kami ke Gunung Lawu, kami jauh lebih nyaman dengan lama hampir 3x dari gunung pertama kami ungaran. Peralatan kami diperlengkap. Syukur, kami selamat dan nyaman. Cidera bisa kami minimalisir, dan perjalanan jadi tertata dan menyenangkan.

Generasi saya sadar bahwa kami butuh perubahan. Dalam kepengurusan kami, akhirnya kami mencoba untuk merubah dasar rekrutmen anggota. Sebelumnya tidak pernah ada diksar, kami laksanakan diksar (pendidikan dasar) yaitu pendidikan dasar ruang, dan pendidikan dasar lapangan. Karena sumberdaya kami masih blank (dibaca bodoh) hanya ada 1 orang dari generasi kami yg pernah ikut diksar, kami meminta bantuan dari mapala tetangga yaitu Mapateksi (mapala sipil), Oksigen 16 (mapala tekim) dan Wapalhi (politeknik negeri semarang) untuk mengisi sesi ruang. Dan sesi lapangan kami.mensurvei tempat, mengurus ijin (desa peromasan), dan survei ermegency.

Dan syukur, semuanya berjalan lancar dengan TANPA KEKERASAN, dalam hal ini intimidasi fisik seperti pemukulan, tampar, dsb.

Prinsip dari diksar lapangan yg kami laksanakan adalah membiarkan adik2 belajar bersama alam. Semua bahan yg didapat dari diksar ruang, “di uji” dengan praktik langsung. Tentu ada punisment, tetapi juga ada reward. Stamina memang kami uji juga, karena naik gunung itu memang bukan “wisata”. Naik gunung itu seperti olahraga ekstrem lainnya, ada beberapa hal yg dibutuhkan yaitu fisik, ilmu, dan alat. Kami sebagai kakak yg mempunyai adik yg memiliki hobi sama merasa wajib mewariskan 2 hal, yaitu ilmu dan fisik. Tapi syukur, 2 hal itu skali lagi tak diiringi dengan kekerasan.
Naik gunung itu butuh fisik yg prima, mental yg kuat diiringi ilmu yg benar, serta alat yg dapat menunjang semuanya. Tapi memukul bukan solusi “memperkeras” mental. Dulu selama menyusun kurikulum rekruitmen teman saya sempat ingin menysipkan kekonyolan yaitu aksi kekerasan, katanya agar sama dengan mapala lain. Namun sebagian besar kami menolak, karena tidak ada faedahnya. Kami membentak, kami memaksa adik kami lari, kami membiarkan adik kami lapar dan haus, tapi tak pernah membuat mereka babak belur. Kami menyediakan tim medis dan plan emergency. Kami menyediakan tempat diksar yg dapat menyediakan makanan dan minuman yg cukup. Kami menyediakan makanan dan suplemen tambahan, karena tidak semuanya di dapat dari alam.

Dalam surat perjanjian memang tertulis jika ada kecelakaan adalah tanggungjawab pribadi. Namun pemukulam bukanlah kecelakaan. Stop kekerasan fisik pada diksar lapangan, karena itu bisa membahayakan. Mungkin kakak2 dulu memasukan kurikulum itu agar kita siap dalan kondisi apapun termasuk cedera agar bisa bertahan dengan kondisi ekstrem, namun zaman sudah berubah.

Pemuda hari ini tidak seaktif masa lampau. Pemuda kini bukan orang yg kemana2 jalan. Bukan orang yg nimba air untuk mandi. Kondisi alam sekarang juga berubah. Jalur sudah semakin jelas, alat audah semakin canggih, ilmu juga sudah dapat dari mana2 termasuk internet.

Ijinkan saya untuk menyajikan pernyataan dari pendiri IPAL yaitu Mas Khusnul untuk IPAL :


Kesedihan, air mata, dan rasa kesal terdengung ketika musibah ini terjadi, namun ingat, jangan jadikan hal ini menjadi pembekuat kegiatan mapala di dalam kampus. Bagi saya lebih baik disediakan wadah yg baik, dimana mereka ditempa dan di didik, daripada mereka berangkat sendiri tan terdidik. Akan makin banyak kecelakaan di alam bebas tanpa edukasi yg cukup, karena bagi saya pendidikan akan menjadikan kita, mahasiswa pecinta alam akan lebih utuh. Kuat secara mental dan fisik, dan peduli dan peka terhadap perubahan lingkungan dan masyarakat. Karena kami mapala, mahasiswa yg mencintai alam dan semesta.

Nb : maap jika membosankan, maklum kurang materi dan kurang menulis

Salam

Edo Susanto

Cikampek, 28 januari 2017 (pukul 00.14)

Lagu yg bikin geter hati

“Di luar pagar sana kawanku, kehidupan memanggilmu.
Tapi tahun kian berlalu, makna gugur satu-satu.
Dari pengetahuanku, dari sluruh pandanganku, pendengaranku, penilaianku.
Mentari tinggal terik bara tanpa janji.
Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli!
Dan kita tersingkir, di dunia yg ngeri dan tak terpahami lagi.” Silampukau : Balada Harian

 

Ini kayanya curhatan orang2 yg dah “hilang” karna rutinitas.

 

Edo Susanto

13 Oktober 2016 (pukul 02.32)

Pengangguran

Belakangan lagi susah dan mager soal nulis, pengen baca blog orang2 juga rasanya blom ada waktu luang buat sekedar “ngeluangin waktu”. Padahal banyak cerita dan realita yg bisa diceritaiin, atau sekedar kata2 yg pantas untuk dibagikan dalam rangka penepuk gundah, atau suplemen tambahan. Saya sendiri belakangan sering sulit fokus dan meluangkan waktu untuk membaca, padahal 3 buku baru dah ditangan, soal mager dan lebih seneng main game atau youtube-an, yg engga jarang bikin bosennya parah.

Jadi seengganya ada beberapa hal yg menarik belakangan ini terjadi:

  1. Patut disyukuri, PLN dah lumayan jauh, mungkin bakal cerita banyak ttg PLN kalau memeang sudah selesai atau gimana, soalnya engga enak juga kalo cerita potong2.
  2. sedikit hal buruk datang, lamaran kerja yg notabenya bakal penempatan di Karawang kandas bung!!! hahaha. ya tapi kaga apa dah, masih banyak yg engga seberuntung kita bisa lolos dibeberapa kualifikasi dan panggilan perusahaan.
  3. Selain PLN masih ada panggilan lainnya, seperti Nindya Karya (gagal di psikotes dan wawancara awal), PJB (lolos administrasi, pengumuman sms, baru aja, hahaha), dan BBank Indonesia (administrasi juga, minggu tes TPA). Buat BI ada cerita tersendirinya, mungkin sama seperti PLN, atau juga pengalaman melamar pekerjaan laiinnya nanti bakal saya ceritaain per perusahaannya.
  4. Makin boros. Aga susah dan engga enak, tapi gimana lagi, soalnnya panggilan PLN ada di Jogja, otomatis ongkos dan biaya “recorvery-nya” juga tinggi.
  5. Makin sering main Dota 2. Hobi yg ditinggal Semenjak setengah tahun lalu, DIA KEMBALI, ahhaha. Sumpah emang Game ini seru banget, belakangan main klo kaga di laptop temen, ya kewarnet, cuman intensitasnya blom menjurus ke ketagihan sih, dan paling menyedihkan dari game ini adalah, MMR Solo nya : 1800. NOOB, ghahah.
  6. Hape jadi teman sejati. Selain Angga, dan Adhi, temen ngobrol paling yg sering bareng ke Jogja, dan jujur wawasan dan perspektif makin sempit. Paling sering ngobrol sama si Dinda sih, tapi mau dibilang gimana, rata2 mereka anak2 blom pada lulus. Bukan menyepelekan, cuman aja kurang bikin semangat kebakar, lebih kita yg ngomong, padahal kadang kita butuh mendengar. Pandangan makin sempit dan sinis dah jadinya. Kayanya butuh dunia baru. Dan tambahan, semaikin sedikit teman kamu dimasa suwung, semakin engga semangat kamu, kacau dah.

Ada meme yg bagus sebenernya, ini dapet dari 9Gag :

13230131_10154702750741840_6766041096807630028_n

Intinnya harus setiap hari kita harus melakukan semaksimal mungkin, hahah.

 

Edo Susanto
24-09-2016 (pukul 02.57.)

Lahir-Hidup-Mati

Agak lama  males nulis, gegara banyak pikiran dan senang bermalas2an, tapi kayanya harus upgrade tulisan, karena banyak hal terjadi belakangan ini

 

Akhirnya LULUS….

Iya, setelah sekian lama kuliah di Semarang tercinta, saya lulus, seneng, karena tahap pendidikan S1 akhirnya selesai, senang karena saya ternyata banyak memiliki keluarga disini, walau sebagian lainnya sudah lulus, tapi dengan hadirnya rekan seperjuangan, dan adik2 yg memberi selamat, rasanya menjalin hubungan baik menjadi prioritas selanjutnya. Sedih, karena tanggungjawab sudah berada didepan mata, iya kerja! hahahah

1470921244060
FYI : kiri-kanan ( Veli-saya [edo]-Anindya [Putri Indonesia 2014]-Attiya-Anggit-Inez-Ilma-Gerral)
1471352502369[1]

 

Sebagian list Hutang selesai, tapi ada juga yg bakal kita anggap lunas..

Akhirnya memberanikan diri untuk naik gunung sendiri, sepedahan ke jogja, dan eksplore Jawa Tengah. Tapi bakal banyak juga list yang dihapus, kaya sepedahan ke Kudus, melengkapi naik gunung di Jawa Tengah yg cuman kurang merapi, dan ngajak adek IPAL buat naik gunung bareng (pake toga) hadeuh…

Tapi overall, bahagia, 5 tahun di “Jawa” membuat saya memahami lebih, dan belajar lebih, soal hutang lain, anggap aja lunas, heheheh

 

Mulai Packing Bos…

Buku2 yg dianggap penting dah mulai dibawa ke ckp, buku kuliah yg bisa diturunin, dah mulai turun, dan sepedah akhirnya udah terjual…

Ya, terimakasih dah nganter sampai Jogja…

IMG_20160821_101702

Mulai Serius, Mulai Nyari Gawe

Setelah kondisi kuliah yg nyaman tanpa tanggungjawab untuk menanggung biaya, akhirnya segalanya serba serius sekarang. Sempat dapat panggilan kerja di Jakarta, sok-sok menolak karena mikir engga bisa nabung, dan tololnya bidang kerja yg akan diberikan merupakan langkah yg baik untuk memulai impian sebagai wirausahawan di bidang Teknik Lingkungan… Piye toh Ndes? wkwkwkkw

Akhirnya kemarin ikut ECC Jobfair UGM, yg super ramai, juga ECC UNDIP yg krik-krik bgt. Tapi tetap “Junjunglah Tinggi Diponegoro Almamater kita” *nyanyi mars Undip* wheheh

Pengalaman pertama ini sungguh teramat seru, mungkin bakal ada pembahasan di tulisan yg khusus bahas ttg nyari gawe nanti

 

Kabar baik berdatangan

Mba Tuti sudah melahirkan anaknya yg kedua…!
Enso Helyan lagi ngisi lagi, nambah lagi yg manggil encek edo
Thekelan bakal menjadi fokus bidang kemahasiswaan TL kembali, syukurlah
Kemarin lolos NK, sampe tahap psikoter doang, gpp, masih syukur, wkwkkwk
PLN tes Psikotes, syukur dah
(ngulang) Sepedah Laku !
Acara jurusan kelar & KLHS kayanya kelar… hhmmm, kayanya sih, wkwkwk
David sama Bang Aldi Lolos dan OJK di Perumnas, GGWP bro!!!
Dan yg paling penting keluarga utuh!!!!

IMG_20160815_070758

 

Edo Susanto
3 September 2016 (Pukul 3:21)

Merbabu Via Thekelan (Turun Selo)

Kemarin setelah menimbang bahwa kegiatan lumayan kosong saya memberanikan diri untuk naik gunung “sendiri”. Iya, sendiri, dan ini adalah pertama kalinya buat saya dimana biasanya saya melakukan perjalanan sama teman2 IPAL atau kawan lainnya.

Sedikit nekad, persiapan saya lakukan dalam waktu singkat. Perjalanan saya mulai pada 2 agustus 2016 dari semarang. Awal perjalanan saya lakukan setelah makan malam di semarang sekitar pukul 19.30, sampai 21.00. Pada awal niat saya, perjalanan ini akan berlangsung 2 Gunung skaligus yaitu Merbabu dan Merapi, karna kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya saya memuaskan diri dengan hanya sampai turun di Selo.

2 Agustus 2016

Semarang – Base Camp Thekelan ( 19.30 – 21.00)

Perjalanan relatif cepat, walau agak ngeden pas tanjakan, hehhe maklum motor dah kebanyakan dipake nanjak, setelah sampai, melakukan registrasi dengan membayar Rp.18.000 (15.000 registrasi, 3000 parkir motor). Sempat agak diragukan oleh pihak basecamp karena melakukan perjalanan sendiri, namun saya bilang sudah lumayan sering dan sudah hapal jalan (fyi : ini perjalanan ke 4 saya)

Pos 1 Pending (21.00-22.00)

Perjalanan ditempuh dengan waktu standar, sesuai dengan petunjuk yang diberikan pihak basecamp. Tipikal jalan bebatuan rapi dan merupakan jalan bagi petani, stelah beberapa ratus meter, mulai masuk vegetasi pepohonan tinggi dengan pohon akasia dan pinus. Perjalanan terasa berat, mengingat logistik bawanya banyak banget. Disini tersedia air untuk bekal, namun saya masi belum mengisi air disini.

IMG_20160802_214916[1]

Pos 2 Pereng Putih (22.00-23.00)

Stelah pos 1 medan semakin bervariasi dengan tanjakan dan turunan. Petunjuk relatif membantu karena banyak juga jalan2 yg bukan menuju ke puncak (biasanya digunakan warga untuk mencari kayu bakar). Dari pos pereng putih kita bisa melihat pemandangan lampu kota, terutama bagian Kopeng. Disini juga tersedia shelter untuk istirahat dan ngecamp, mungkin cukup untuk 5-6 tenda.

IMG_20160802_224415[1]

Pos 3 Pos air (23.00-00.00)

Perjalanan menuju pos 3 semakin menantang. jalan yang relatif hanya menyusuri tebing cukup membuat kita harus waspada. Dengan sebelah kanan dari jalan jurang, kehati-hatian menjadi kunci dari keselamatan. Pada perjalanan menuju pos 3 ini banyak jalan yang rusak akibat longsoran. Perjalanan ini pun dapat diikuti kemana arahnya degan mengikuti jalur pipa yang dibuat oleh warga. Sampai di pos 3, saya langsung menambah cadangan air minum saya (mungkin sekitar 6 liter), makan mengisi tenaga, lalu melanjutkan perjalanan.

3 Agustus 2016

Pos 4 Lapangan (00.00 – 01.00)

Setelah perjalanan tadi merupakan penyusuran tebing, perjalanan pos 4 relatif lebih aman. Vegetasi mulai berubah menjadi semak dengan pohon tinggi yang jarang. Perjalanan realtif lancar, namun tenaga mulai berkurang karena sudah cukup jauh berjalan dan beban yang semakin bertambah. Tanjakan relatif lebih sadis, namun masih dapat bedamai dengan istirahat. Setelah sampai saya injeksi tenaga kembali dengan makanan dan gula merah, setelah siap, perjalanan  dilanjutkan.

IMG_20160803_003626[1]

Pos 5 / Puncak watu gubuk (01.00 – 02.00)

Medan semakin berat dan nanjak ditambah vegetasi yang semakin jarang. Pada titik ini angin semakin kencang, dan dingin. Beberapakali kewalahan dan istirahat cukup lama. Tanjakan sadis namun masih bisa dilalui. Ada 2 tipe jalan yang bisa dipilih, yaitu jalan seperti jalur air, atau tipe rerumputan. Sampai diwatu gubuk, istirahat tidak terlalu lama karena cuaca semakin dingin.

Puncak 2 Watu tulis / Pemancar (02.00 – 03.00)

Pemandangan semakin terbuka, dan semakin jarang vegetasi. Mulai muncul Eldeweis (Anaphalis Javanicus) dan makin tanpa ampun tanjakan. lambat laun sampai juga di pemancar.Sempat bertemu orang dari Sragen, mengaku dari jalur Thekelan juga, namun belum melakukan registrasi (karena pas di basecamp yg terdaftar berangkat pada hari itu cuman saya), sedikit ngobrol sekaligus istirahat sejenak, namun tidak berlama2 langsung berangkat kembali.

 

Pertigaan syarif (03.00-05.00)

Stamina makin turun, namun jalan maikin greget. biasanya break yg saya lakukan engga lebih dari 2 menit, belakangan makin lama. Jalur makin engga ramah, setiap 6 langkah badan dah nuntut buat ngaso, tapi klo makin lama istirahat makin dingin. Injeksi berupa makanan  dan gula dah dilakukan, apa daya beban yg terlanjur berat memaksa tempo perjalanan makin lambat.

Puncak Kenteng Songo (05.00-06.00)

Sebenernya klo engga terlau bawa beban gini mungkin ini urusan 20 menit, tapi karena dah cape parah jadinya sejam, hahahah. Perjalanan lancar, ngaso banyak, ketemu dengan Ranger  Guci, yg lagi jalan2 di sini. Setelah istirahat, foto, dll, saya melanjutkan turun ke sabana 2 Jalur Selo

IMG_20160803_054708[1]
Muka dah kacau + ngantuk

Sabana 2 (06.30 – 07.30)

Kaki mulai kerasa geter akibat kurang makan dan kurang tidur. Jalur kaga manusiawi, cuman berupa kaya selokan, mungkin udah masuk kateguri rusak banget. Bagi yg seneng cepet bisa nyeret sepatu ngeluncur gtu, tapi resiko sepatu cepet ancur.

IMG_20160803_061929[1]
ini ada eldeweis juga
Istirahat (07.30-10.30)

Sebenernya ini waktu yg lama buat istirahat, tapi karna judulnya jalan sendiri, jadi ribetnya sendiri, engga bagi2. Udah cape, buka tenda sendiri, masak sendiri, jomblo pula (apaan dah, hahah). Rencana buyar. Rencana mau bikin omelet mie pake nasi, namun gagal total. Mals masak nasi, akhirnya jadi migoreng sosis. Kelar masak jam 9 dah cape coba tidur. istirahat engga lama karena dah panas, mulai rapi2 dan bersih2. jam setengah sebelas siap berangkat!!!!

Sabana 1 (10.30-11.00)

Jalan relatif cepet, tapi jalur dan kaki makin engga bersahabat. Jalur mungkin dulunya bagus, tapi tangga tanah buatan manusia makin kekikis, jadi pas turun bikin dengkul kerja keras nahan beban badan dan bawaan.

Pos 4 (11.00-11.30)

Kaki dah pegel, disin i ketemu banyak orang, dari rombongan jogja, rombongan UNJ, saya barengan ama mereka, dan badan dah mulai cape. Setelah ngaso dan sempet galau pilih jalur mana, dipilih jalur lama (fyi ada jalur baru dan cabangnya di pos 3 ini).

Pos 3 (12.00-12.30)

Karena jalan sama Daun jiwa muda anak2 tadi, kita jadi ikut jalan bareng. Ke pos 3 relatif ncepat dan memang dekat. Dari pos 4 pun memang sudah terlihat. Vegetasi mulai ramai dengan semak belukar, setelah sebelumnya hanya sabana dan pandang terbuka.

Pos 2 (12.30 – 13.15)

Mulai ngeluh, kaki dah makin lemes dan satu kesalahan, lupa makan!!

Pos 1 (13.15-14.00)

Lemes dan isinya ngeluh. Semakin tertutup vegetasi dengan pohon yg relatif besar. Kaki dah parkinson, hahah

Basecamp (14.30.15.00)

Cape, lapar, ngantuk. Sempet tidur di jalan sekitar 5 menit per istirahat. ini perjalanan yg paling jelek. Kurang istirahat, makanan kurang gizi. Akhirnya samapai basecamp di Pak Bari. Langsung mesen makan sama es teh, ntaps, hahhaha. Diketawain sama bocah UNJ, setelah jam 4 berpisah mereka melanjutkan liburan di jogja. Kita mandi ngobrol sama orang2, ketemu sama bang ucok, dan bang anwar yg merupakan warga bogor, dan menjadi patner pulang esok harinya.

Tidur panjang (19.00-07.00)

4 Agustus 2016

bangun, langsung mesen makan sama teh anget. Ngobrol soal naik ojek atau nyewa, akhirnya ketemu sama bang tompel dan bang regi, keduanya mau lanjut ke dieng culture festival, di dieng.

09.00 (pulang)

Turun ke boyolali dengan mobil sewaan, bayar 250.000 dan worth it karena jauhnya minta ampun, masing2 kita bayarb 50.000. mMakan siang dan jam 11.00 misah. Saya mas tompel, mas regi menuju Utara, Bang anwar, bang ucok menuju Kartasuro, untuk menuju Jogja. Saya berhenti di Pasar Sapi, Salatiga, sedangkan keduanya lanjut Bawen, Ambarawa untuk lanjut ke Wonosobo. Saya lanjut ke thekelan, karena motor, kemudian bayar ongkos 10.000 untuk ke kopeng. Lanjut Thekelan dengan ojeg 15.000. Kemudian langsung semarang, dan tidur. hehhehe

IMG_20160804_092909[1]
Keterangan dari kiri ke kanan : saya, Regi, Ucok, Tompel, Anwar

Edo Susanto
10 Agustus (pukul 17.00)