Merbabu Via Thekelan (Turun Selo)

Kemarin setelah menimbang bahwa kegiatan lumayan kosong saya memberanikan diri untuk naik gunung “sendiri”. Iya, sendiri, dan ini adalah pertama kalinya buat saya dimana biasanya saya melakukan perjalanan sama teman2 IPAL atau kawan lainnya.

Sedikit nekad, persiapan saya lakukan dalam waktu singkat. Perjalanan saya mulai pada 2 agustus 2016 dari semarang. Awal perjalanan saya lakukan setelah makan malam di semarang sekitar pukul 19.30, sampai 21.00. Pada awal niat saya, perjalanan ini akan berlangsung 2 Gunung skaligus yaitu Merbabu dan Merapi, karna kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya saya memuaskan diri dengan hanya sampai turun di Selo.

2 Agustus 2016

Semarang – Base Camp Thekelan ( 19.30 – 21.00)

Perjalanan relatif cepat, walau agak ngeden pas tanjakan, hehhe maklum motor dah kebanyakan dipake nanjak, setelah sampai, melakukan registrasi dengan membayar Rp.18.000 (15.000 registrasi, 3000 parkir motor). Sempat agak diragukan oleh pihak basecamp karena melakukan perjalanan sendiri, namun saya bilang sudah lumayan sering dan sudah hapal jalan (fyi : ini perjalanan ke 4 saya)

Pos 1 Pending (21.00-22.00)

Perjalanan ditempuh dengan waktu standar, sesuai dengan petunjuk yang diberikan pihak basecamp. Tipikal jalan bebatuan rapi dan merupakan jalan bagi petani, stelah beberapa ratus meter, mulai masuk vegetasi pepohonan tinggi dengan pohon akasia dan pinus. Perjalanan terasa berat, mengingat logistik bawanya banyak banget. Disini tersedia air untuk bekal, namun saya masi belum mengisi air disini.

IMG_20160802_214916[1]

Pos 2 Pereng Putih (22.00-23.00)

Stelah pos 1 medan semakin bervariasi dengan tanjakan dan turunan. Petunjuk relatif membantu karena banyak juga jalan2 yg bukan menuju ke puncak (biasanya digunakan warga untuk mencari kayu bakar). Dari pos pereng putih kita bisa melihat pemandangan lampu kota, terutama bagian Kopeng. Disini juga tersedia shelter untuk istirahat dan ngecamp, mungkin cukup untuk 5-6 tenda.

IMG_20160802_224415[1]

Pos 3 Pos air (23.00-00.00)

Perjalanan menuju pos 3 semakin menantang. jalan yang relatif hanya menyusuri tebing cukup membuat kita harus waspada. Dengan sebelah kanan dari jalan jurang, kehati-hatian menjadi kunci dari keselamatan. Pada perjalanan menuju pos 3 ini banyak jalan yang rusak akibat longsoran. Perjalanan ini pun dapat diikuti kemana arahnya degan mengikuti jalur pipa yang dibuat oleh warga. Sampai di pos 3, saya langsung menambah cadangan air minum saya (mungkin sekitar 6 liter), makan mengisi tenaga, lalu melanjutkan perjalanan.

3 Agustus 2016

Pos 4 Lapangan (00.00 – 01.00)

Setelah perjalanan tadi merupakan penyusuran tebing, perjalanan pos 4 relatif lebih aman. Vegetasi mulai berubah menjadi semak dengan pohon tinggi yang jarang. Perjalanan realtif lancar, namun tenaga mulai berkurang karena sudah cukup jauh berjalan dan beban yang semakin bertambah. Tanjakan relatif lebih sadis, namun masih dapat bedamai dengan istirahat. Setelah sampai saya injeksi tenaga kembali dengan makanan dan gula merah, setelah siap, perjalanan  dilanjutkan.

IMG_20160803_003626[1]

Pos 5 / Puncak watu gubuk (01.00 – 02.00)

Medan semakin berat dan nanjak ditambah vegetasi yang semakin jarang. Pada titik ini angin semakin kencang, dan dingin. Beberapakali kewalahan dan istirahat cukup lama. Tanjakan sadis namun masih bisa dilalui. Ada 2 tipe jalan yang bisa dipilih, yaitu jalan seperti jalur air, atau tipe rerumputan. Sampai diwatu gubuk, istirahat tidak terlalu lama karena cuaca semakin dingin.

Puncak 2 Watu tulis / Pemancar (02.00 – 03.00)

Pemandangan semakin terbuka, dan semakin jarang vegetasi. Mulai muncul Eldeweis (Anaphalis Javanicus) dan makin tanpa ampun tanjakan. lambat laun sampai juga di pemancar.Sempat bertemu orang dari Sragen, mengaku dari jalur Thekelan juga, namun belum melakukan registrasi (karena pas di basecamp yg terdaftar berangkat pada hari itu cuman saya), sedikit ngobrol sekaligus istirahat sejenak, namun tidak berlama2 langsung berangkat kembali.

 

Pertigaan syarif (03.00-05.00)

Stamina makin turun, namun jalan maikin greget. biasanya break yg saya lakukan engga lebih dari 2 menit, belakangan makin lama. Jalur makin engga ramah, setiap 6 langkah badan dah nuntut buat ngaso, tapi klo makin lama istirahat makin dingin. Injeksi berupa makanan  dan gula dah dilakukan, apa daya beban yg terlanjur berat memaksa tempo perjalanan makin lambat.

Puncak Kenteng Songo (05.00-06.00)

Sebenernya klo engga terlau bawa beban gini mungkin ini urusan 20 menit, tapi karena dah cape parah jadinya sejam, hahahah. Perjalanan lancar, ngaso banyak, ketemu dengan Ranger  Guci, yg lagi jalan2 di sini. Setelah istirahat, foto, dll, saya melanjutkan turun ke sabana 2 Jalur Selo

IMG_20160803_054708[1]
Muka dah kacau + ngantuk

Sabana 2 (06.30 – 07.30)

Kaki mulai kerasa geter akibat kurang makan dan kurang tidur. Jalur kaga manusiawi, cuman berupa kaya selokan, mungkin udah masuk kateguri rusak banget. Bagi yg seneng cepet bisa nyeret sepatu ngeluncur gtu, tapi resiko sepatu cepet ancur.

IMG_20160803_061929[1]
ini ada eldeweis juga
Istirahat (07.30-10.30)

Sebenernya ini waktu yg lama buat istirahat, tapi karna judulnya jalan sendiri, jadi ribetnya sendiri, engga bagi2. Udah cape, buka tenda sendiri, masak sendiri, jomblo pula (apaan dah, hahah). Rencana buyar. Rencana mau bikin omelet mie pake nasi, namun gagal total. Mals masak nasi, akhirnya jadi migoreng sosis. Kelar masak jam 9 dah cape coba tidur. istirahat engga lama karena dah panas, mulai rapi2 dan bersih2. jam setengah sebelas siap berangkat!!!!

Sabana 1 (10.30-11.00)

Jalan relatif cepet, tapi jalur dan kaki makin engga bersahabat. Jalur mungkin dulunya bagus, tapi tangga tanah buatan manusia makin kekikis, jadi pas turun bikin dengkul kerja keras nahan beban badan dan bawaan.

Pos 4 (11.00-11.30)

Kaki dah pegel, disin i ketemu banyak orang, dari rombongan jogja, rombongan UNJ, saya barengan ama mereka, dan badan dah mulai cape. Setelah ngaso dan sempet galau pilih jalur mana, dipilih jalur lama (fyi ada jalur baru dan cabangnya di pos 3 ini).

Pos 3 (12.00-12.30)

Karena jalan sama Daun jiwa muda anak2 tadi, kita jadi ikut jalan bareng. Ke pos 3 relatif ncepat dan memang dekat. Dari pos 4 pun memang sudah terlihat. Vegetasi mulai ramai dengan semak belukar, setelah sebelumnya hanya sabana dan pandang terbuka.

Pos 2 (12.30 – 13.15)

Mulai ngeluh, kaki dah makin lemes dan satu kesalahan, lupa makan!!

Pos 1 (13.15-14.00)

Lemes dan isinya ngeluh. Semakin tertutup vegetasi dengan pohon yg relatif besar. Kaki dah parkinson, hahah

Basecamp (14.30.15.00)

Cape, lapar, ngantuk. Sempet tidur di jalan sekitar 5 menit per istirahat. ini perjalanan yg paling jelek. Kurang istirahat, makanan kurang gizi. Akhirnya samapai basecamp di Pak Bari. Langsung mesen makan sama es teh, ntaps, hahhaha. Diketawain sama bocah UNJ, setelah jam 4 berpisah mereka melanjutkan liburan di jogja. Kita mandi ngobrol sama orang2, ketemu sama bang ucok, dan bang anwar yg merupakan warga bogor, dan menjadi patner pulang esok harinya.

Tidur panjang (19.00-07.00)

4 Agustus 2016

bangun, langsung mesen makan sama teh anget. Ngobrol soal naik ojek atau nyewa, akhirnya ketemu sama bang tompel dan bang regi, keduanya mau lanjut ke dieng culture festival, di dieng.

09.00 (pulang)

Turun ke boyolali dengan mobil sewaan, bayar 250.000 dan worth it karena jauhnya minta ampun, masing2 kita bayarb 50.000. mMakan siang dan jam 11.00 misah. Saya mas tompel, mas regi menuju Utara, Bang anwar, bang ucok menuju Kartasuro, untuk menuju Jogja. Saya berhenti di Pasar Sapi, Salatiga, sedangkan keduanya lanjut Bawen, Ambarawa untuk lanjut ke Wonosobo. Saya lanjut ke thekelan, karena motor, kemudian bayar ongkos 10.000 untuk ke kopeng. Lanjut Thekelan dengan ojeg 15.000. Kemudian langsung semarang, dan tidur. hehhehe

IMG_20160804_092909[1]
Keterangan dari kiri ke kanan : saya, Regi, Ucok, Tompel, Anwar

Edo Susanto
10 Agustus (pukul 17.00)

 

 

 

Iklan
Andalan

Tulisan Tanggal 6-6-16

Apapun yang terjadi hari esok, setidaknya kita memiliki hari kemarin.

Tak peduli itu detik, menit, atau hari, setidaknya kita pernah bersama dan memikirkan tentang keresahan kita tentang dunia .

Sulit berdamai dengan keadaan dan Tuhan sebenarnya, namun aku rasa aku sudah menjadi orang yg terbebas dengan jalan hidupku hari ini

Aku akan bebas, dan menapaki jalan baru dengan seseorang yg baru.

Mungkin Tuhan sedang mengetuk isi kepala ini, dan berkata : “Sekarang mulailah jalan!”

Aku tak akan berdoa tentangmu, keluargamu, atau kekasihmu.

Aku hanya berdoa agar dunia ini menjadi lebih baik, bukan untuk kita, tetapi untuk keturunan kita, yg akan terus mengisi bumi ini hingga datangnya hari penghakiman 

Dimana “Sosok Nya” akan hadir dan menjadi hakim atas kita dan bumi kita.

Salam damai untuk bumi dan segala isinya

Edo Susanto

Dibuat : 6-6-16 (20.01)

Salah Potong

Sebenernya ini sedikit Alay buat diceritain, tapi berhubung udah banyak yg ngomen jadi males klo dipendem sendiri, hahah……

Sebenernya yg saya takuti ketika potong rambut adalah ketika gaya rambut hasil potongnya nanti dikira mirip Kim Jong Un (bener ga nulisnya?) presiden korea. Dan akhirnya hal buruk terjadi, ini gegara tukang cukur yg rese dan sotoy pas kemarin dan gini nih jadinya.

download (2)

Percakapan denga tukang cukur :

Saya : ” mas, tolong potong ala viking gtu ya mas.. Eh pantes ga yak?”
Tukang : ” oh yg pinggirnya nol kan mas?”
saya :”Iya mas”

Akhirnya tukang Cukur pede motong gtu aja… Beberapa menit kemudian

Tukang :” wah, masnya rambutnya ketombean yak…”

Saya langsung megang sendal langsung geplak kepala tukang balas dengan senyum terindah sebari ngomong : “Oh iya mas, biarin aja lah mas, cowo wajar”
Tukang : “masnya pake conditioner aja mas..”
Saya :”agak males mas, ribet !”
Tukang:”engga mas, saya juga pakek kok”

Saya langsung merhatiin Ni tukang cukur, rambutnya pendek, dengan topi so kecenya, dan kemudian saya sadar, ada yg aneh..

Saya :” waktu rambut saya panjang (monggo cerita tentang arti rambut ketika rambut saya sudah mencapai bokong) temen saya pernah mau ngasih gratis mas, tapi saya tolak karena ribet makenya. setau saya setelah keramas kan? kemudian baru pake conditioner”
Mas tukang:” Loh *muka bingung*, engga ribet mas langsung dipake

Hah!?

Akhirnya kita Sempet debat bulak-balik sampe 5x ada dah itu, dan akhirnya saya mengalah, mengingat yg tukang cukur masnya, bukan kita dan kesimpulan sementara masnya klo Keramas pake koditioner doang dan ga pake sampo *geleng2

Setelah membikin rambut nol kiri-kanan-belakang, baru lah masnya nanya

Sambil nyisir2 :” mas rambutnya ditarik ke pinggir (kanan) kan?”
Saya :”wahbagus ke belakang dong mas, kan biasanya juga ke belakang”
Tukang :” ra nyandak (ga nyampe mas)”
Saya :” lah trus piye? Aku sih emoh belah minggir, makin mirip Kim jong un kita orang ”

Seolah kena serangan otak beku sebari (pura2) mikir, “ya udah mas berarti gini aja

*Hening

saya dengan tenang berkata : “Udah mas?”
Tukang : “Iya toh, Kali dipotong nanti ga nyampe2 (untuk ditari ke belakang)”
*Hening*Hening*Hening

WTF dah, dengan potongan nanggung Dia bilang kelar *ambil sendal lagi, kita tabok lagi.

Meminta  penjelasan lebih : “Tapi ini pantes mas?”
Tukang : “Ya klo masnya pede pantes aja. ”

Termenung, dikeramasin, bayar dan pulang.

Keesokannya 2 orang langsung ngetawaiin saya pas ketemu… *stay strong

Dan untuk mas tukang cukur terkutu tercinta, buat elu tau aja dah, rambut lu itu KOTOR , iya karena cuman pake conditioner.  Dan faktanya setelah saya orang tanya sama cewe jadi2an temen saya , fakta menyatakan bahwa :

memakai conditioner adalah setelah dilakukannnya keramas.

jadi tolong mas untuk  segeralah insyaf dengan keramas dengan benar, dan memakai conditioner sebagaimana mestinya dan jangan menyesatkan cowo2 bodoh yg ga bisa bedain fungsi shampo dan conditioner. Wasalam

Hahhaha

Edo Susanto

17 juli 2016 (pukull 18.00)IMG_20160717_072626

Hobi Ngobrol

Saat pulkam dari semarang, semenjak Tol Cipali resmi dibuka, saya nggak pernah berani lagi naik Bis AKAP. Selain memeang jauh dari rumah (tempat pemberhentian / nurunin) faktor stasiun yg dekat dengan rumah juga menjadi salah satu alasan utama saya.

Ketika saya sampai di gerbong kereta, sejenak saya merapikan barang-barang bawaan saya, dan sempat bertukar posisi dengan sebuah keluarga, akhirnya saya mendapat posisi duduk dengan 3 orang pria yg berhenti di malang (fyi : kereta yg saya naiki Jayabaya) dan juga 1 keluarga di sebrang kursi saya yg berisi suami istri dan 2 anak yg usianya masih belia (mungkin 3 dan 6 tahun).

Seperti biasa basa-basi dimulai dengan menanyakan dimana mereka (yg sekursi dengan saya) berhenti, dan dilanjutkan mereka bertanya pada saya. Tiba2 bapak sebrang nyeletuk ttg kota semarang. Dari pengalaman berkereta saya selama 2 tahun ini , biasanya percakapan berakhir dan dilanjutkan dengan tidur. Namun nasib baik datang, perbincangan berlanjut dengan mas2 yg bersebelah dengan saya. Asalnya dari kendari, dan bekerja sebagai buruh di salah satu produsen sosis yg biasa dijajakan di pinggir jalan sebagai sosis andung bakar.

Dari perbincangan itu saya paham sedikit tentang produksi sosis, bahan baku sosis, dan juga harga perkilo sosis dari pabriknya. Saya juga melihat bagaimana muaknya orang ttg bekerja di pabrik / industri, dan sebenarnya senang untuk menjadi petani . Ini pertama kali buat saya mendengar pengakuan tersebut. Saya juga diceritakan ttg bagaimana kehidupan di Pulau Sulawesi, begitu tentram dan menyenangkan.

Perjalanan dan obrolan berlanjut, mungkin ada lebih dari 3 jam, dan lalu kemudian mas2 di depan saya nyeletuk sendiri. “mas-nya seneng jalan2 ya?, klo saya jalan2 dah bosan, hobi itu bisa berhenti, tapi paling sulit saya berenti “main” mas…” saya, “main apaan mas?”. “judi”, saya dan mas sebelumnya ngobrol dengan saya sedikit terbengong. Obrolan berlanjut dengan berbalas2an, dan lebih banya mas yg kedua yg dominan.Dia bercerita tentang berjudi ke Makau, di Jakarta, dll. Tapi untuk cerita tersebut saya tidak percaya. Agar lebih mudah mas kedua kita sebut mas B, yg pertama mas A dan ada bapak C, dan Bapak D yg diseberang yg bersama keluarga.

Mas B : “saya dulu Mapala UI, yg sempat tersesat di gunung salak”
saya “*diem”, mas A :”wah, itu dulu gimana mas?”
“iya temen saya masuk jurang loncat karna di jurang dikira ada air”
setelah beberapa lanjutan…
Bapak D : “Gunung salak emang angker yak? yg paling angker gunung mana?”
saya : “mungkin argopuro pak, saya denger2 banyak mahluk halusnya, dan hewan buasnya juga”
akhirnya perbincanganpun makin ngawur karena saya rasa mas B ngomong ngawur juga.

Sesaat kemudian saya dan bapak C berbincang ttg rokok, dimana dia sudah berhenti sejak lama, sejenak saya menafikan omongan Mas B. Sesaat hening seolah mereka mencari perhatian “kami”, padahal mas B sedang ngobrol dengan Mas A (mungkin mas A juga merasa banyak omongan Mas B hoax), dan kemudian perbincangan menjadi perbincangan tidak hanya antara 2 orang, melainkan 5 orang. Kejadian Mas B di “cuekin” engga terjadi sekali, tapi beberapakali, setelah saya memutuskan menagnggapi bapak2 lain dibandingkan dia.

Saya merasa beruntung dihari itu, karena kondisi seperti ini sangat jarang di dapatkan dalam suatu perjalanan. Terakhir kali saya enjoy menikmati perjalanan dalam kereta adalah 8 tahun silam ketika perjalanan kereta ke dan dari jogja.

Dari perjalanan ini makin sadar kalo saya memamng hobi ngobrol. Dan Kejujuran dan memperhatikan orang ketika bicara adalah syarat utama agar obrolan bisa lanjut. Dan tidak dominan, dan asik juga jadi syarat selanjutnya.

 

 

Kemarin dalam Rapat

Hari rabu kemarin saya mengikuti sebuah rapat bersama salahsatu badan di kampus, dan istansi pemerintahan untuk menyusun KLHS (kajian lingkungan hidup strategis) di sebuah kabupaten di Jawa tengah. Rapat tersebut berlangsung cukup lama dari jam 10.30 sampai 16.00. Tentu saya senang, karena mendapatkan kesempatan untuk mengikuti hal2 seperti ini, karena pada dasarnya memang pengalaman saya masih sangat minim, dan terbilang polos

Inti dari KLHS adalah, sebuah rekomendasi yg diberikan pegawai (PEMDA) dalam rangka pembangunan berkelanjutan yg di berikan kepada eksekutif (bupati / walikota / gubernur), dengan menyesuaikan kebutuhan dan dampak dari semua kegiatan yang ada di sebuah kabupaten. Muara dari hal ini juga salah satunya adalah RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah) di sebuah kabupaten yang tentu mengarah pada wilayah mana akan ada program pemerintah, atau berapa dana untuk pembangunan.

Salah satu dosen yg terlibat (bukan dosen jurusanku) menurut Dian agak sinis, karena hasil dari rekomendasi ini belum tentu digunakan. Dan saya sendiri sebelum masuk rapat ini memang sudah paham, bahwa hal ini seperti gula dalam jamuan teh, “pemanis” namun untuk beberapa orang, teh tanpa gula saja sudah cukup. Tapi toh, gula harus tetap di sediakan, dan ada waktu “basi” dan ketika akan pesta teh lagi, harus menyediakan yg baru.

Sebagai mahasiswa, saya selalu belajar 2 hal dalam kuliah, pertama adalah membuat, medisain, atau menyusun segala sesuatu hal dengan idealis dan standar yg tinggi, dengan mengikuti faedah yg dipelajari dalam kelas2 yg ada di kampus. Dan yg kedua adalah WTF, ini Indonesia men!!! (artinya yg penting ada, yg penting senang) *ambil nafas dalam

Dalam rapat kemarin banyak sekali yg dibahas, namun 3 hal utama yg menjadi point2 atau isu adalah sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kabupaten yg meminta bantuan kampus saya untuk menyusun KLHS mempunyai penduduk yg banyak menjadi petani, dan masalah dari kabupaten tersebut adalah rendahnya curah hujan di sana. Maka salah satu solusi pun dikeluarkan, yaitu membuat sumur dangkal, sebagai sumber air untuk pertanian.

Ada hal unik terjadi :

7428208_20151210021625

“pak, dalam penilaian bapak apakah sumur dangkal ini akan menjadi masalah lingkungan jika kami buat ribuan buah?” PNS
“tergantung, apakah wilayah tersebut memang cocokatau tidak, apakah potensinya ada banyak, jika sedikit, malah akan timbul masalah baru. Bapak punya data dimana saja sumur akan dibangun?” Pak Dosen
“Tidak dan belum direncnakan pak”
“Sebenarnya kami punya data akan terletak dimana saja sumur dibuat, sesuai letak dari lahan pertanian mana yg produktif namun kering disaat musim kemarau”
“tapi… *senyum**” PNS
“Kenapa?” Pak Dosen
“Pak bupati meminta dalam salah satu dokumen yg berkaitan dengan hal itu tulisnya pembangunan sumur ditulis Kabupaten ******* saja (general / umum), padahal kami sudah mau mengerjakan andai kata pak bupati meminta kami secara spesifik kecamatan, bahkan desa”
“*senyum*, saya paham lah, biar entok wilayah pemilahannya toh ?
“ya ngono lah pak, ternyata bapak sudah paham” PNS

Seketika ruangan riuh dengan tawa dan senyum.

Aku dan Dian yg agak Naif, sedikit terenyap sembari senyum getir mendengar isi rapat tersebut. Program pembangunan ternyata menjadi konpensasi politik bagi pemegang kuasa, untuk wilayah yg sudah memenangkan pemilihan politik sebagai Bupati. Dan wilayah bukan pemilihnya? Bodo amet.

Saya jadi teringat ketika beberapa tahun yg lalu saya membantu desa Thekelan untuk menyusun proposal ke kementrian PU, dalam rangka membangu jaringan SPAM (sistem penyediaan air minum), dimana Pak Supri cerita bahwa ketika dana tersebut masuk ke kabupaten Semarang, semua terkaget2 dan berebut untuk medapatkan dana tersebut (cerita ini di dapat dari anggota DPRD kab yg dekat dengan Thekelan), namun ternyata deskripsi tempat pembangunan sudah jelas, yaitu dari mata air Paltuding, hingga dusun Thekelan. Hallucu juga kata Pak Supri terjadi di desa, ketika semua orang berebut dana yg jumlahnya 1 milyar tersebut. Ya untung dana tersebut engga di “mainin” kaya kisah di atas yg menjadi konpen sasi politi penguasa.

Setelah sore, saya dan dian ngobrol ttg jahatnya politik, dan enggak nyangka hal itu ngelewat begitu aja di depan mata kami. “Akujadi ngerasa terlalu naif dengan pandangan2ku sekarang, dan bingung mau gimana. Suatu saat kalo kita jadi orang baik, tapi atasan kita brengsek, dan kita juga harus ngikutin atasan kita toh?” kata dian. Aku cuman bisa ngomong sama dia, bahwa dunia ini memang kejam, tapi buka berarti kita juga jadi kejam. Banyakhal baik yg bisa kita lakukan. Mulai dari jadi manusia yg baik

Kamu berkata ingin dunia menjadi lebih baik, namun dari tingkahmu sendiri, apakah kamu sudah baik, dan berdampak?

Aku menutup perbincangan itu dengan hal sederhana saja. Jika kita bisa lurus dan sukses, pasti jalan kita di tiru orang lain. Usahakan frekuensi antara apa yg kamu bicarakan, sama dengan apa yg kamu lakukan. Hal itu yg menjadi standar kebenaran yg nyata di dunia hari ini, yaitu tidak menjadi munafik.

aL27nEz_460s_v2

Saya jadi inget sama pak ahok penah bilang gini :
“Bapak ibu pilih saya, engga pilih saya, saya engga peduli. Walau ibu dan bapakpilih saya kemarin denga pak Jokowi, saya akan tetap meminahkan ibu dari pinggir sungai, karena bapak dan ibu sudah salah (karena mengurug sungai dan menghuni secara ilegal). Saya ga peduli ibu dan bapak pilih saya atau tidak. Jika kalian sakit dan tidak punya biaya, saya wajib membantu bapak untuk kembali, karena saya disumpah untuk itu. Jika anak ibu tidak sekolah (di usia sekolah) dan ibu tidak punya biaya, lapor pada saya, dan saya akan memberi anak ibu KJP, yg berisi uang jajan dan operasional untuk anak ibu (baju dan buku) sebesar 400 rb per bulan (sma) dan jika anak ibu lolos kuliah negeri, kami biayai 18 juta per bulan . Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak peduli anda pilih saya atau tidak, karena saya di sumpah untuk menegakan keadilan sosial, bukan keadilan bagi siapa yg memilih saya (konsituen).

Jadi Keadilan sosial, atau keadilan konsituen (pemilih)?

Edo Susanto
1-7-2016 (pukul 1.47)

Exodus (Nasib Rohingnya )

Pagi ini saya baca berita tentang nasib pengungsi rohingnya yg sudah setahun lamanya tinggal di aceh, setelah sekian lama tak mendengar kabar, akhirnya masalah ini timbul lagi, setelah minggu kemarin ada sejumlah kapal berlabu di aceh yang berasal dari Srilanka.

Beda kasus dengan Rohingnya, Srilanka memilih menjadi “manusia perahu” karna ingin perubahan, dan berharap bisa ke Australi atau Malaysia. Konon di negaranya kemiskinan sangat menyiksa, sehingga mereka mengambil resiko untuk “berlayar” dan mencari tempat tinggal baru jika dibandingkan tinggal di negeri asalnya. Dan Rohingnya yang disebut berasal dari Myanmar pun katanya asalnya dari Srilanka, atau India, yg ber-exodus ke tempat yang baru, namun sial, ditolak dan diusir.

Tentu hari ini,sejumlah pengungsi Rohingnya sepertinya tidak dipermasalahkan oleh warga aceh, namun bayangkan jika jumlah orang2 tersebut bertambah, dan juga makin “membebani” mereka (warga aceh).

Sinis?
Agaknya saya memang begitu. Walau di dalam berita tersebut, terlihat etikad baik dari pengungsi untuk bekerja, tapi toh rasanya jadi berat, ditengah bangsa ini juga ga bener2 ametan. iya ga sih?

Jika sudah seperti ini, ingin rasanya mimpi John Lennon terjadi. Saya rasa semua mimpinya di dalam lagu “IMAGINE” sangat murni. Mimpi seorang anak kecil yg belum mengerti nilai, uang, agama, atau hal2 lainnya yg membuat orang jadi gila dan memperebutkan itu semua

 

“Manusia berasal dari nur / cahaya / energi yang teramat murni sumbernya (Tuhan), ketika cahaya itu masuk ke dalam tubuk, menyatulah mereka dan cahaya tersebut menjadi jiwa. Perlahan tapi pasti, cahaya itu hilang jika tak sering kau bersihkan dari kotoran2 jiwa”

 

Edo Susanto
28-06-16 (pukul 08.43)