Andalan

Tulisan Tanggal 6-6-16

Apapun yang terjadi hari esok, setidaknya kita memiliki hari kemarin.

Tak peduli itu detik, menit, atau hari, setidaknya kita pernah bersama dan memikirkan tentang keresahan kita tentang dunia .

Sulit berdamai dengan keadaan dan Tuhan sebenarnya, namun aku rasa aku sudah menjadi orang yg terbebas dengan jalan hidupku hari ini

Aku akan bebas, dan menapaki jalan baru dengan seseorang yg baru.

Mungkin Tuhan sedang mengetuk isi kepala ini, dan berkata : “Sekarang mulailah jalan!”

Aku tak akan berdoa tentangmu, keluargamu, atau kekasihmu.

Aku hanya berdoa agar dunia ini menjadi lebih baik, bukan untuk kita, tetapi untuk keturunan kita, yg akan terus mengisi bumi ini hingga datangnya hari penghakiman 

Dimana “Sosok Nya” akan hadir dan menjadi hakim atas kita dan bumi kita.

Salam damai untuk bumi dan segala isinya

Edo Susanto

Dibuat : 6-6-16 (20.01)

Katanya ingin ibadah

Tulisan ini sekedar catatan kaki dan keresahan yg menumpuk. Tentang bagaimana kita beribadah dan glorifikasi ritual-ritual yang menyebabkan pikiran tergelitik untuk berdiskusi.

Sudah lama aku tidak berangkat Gereja. Mungkin mendekati 4 Tahun? Tentu banyak keresahan yang masih ada hubungannya dengan tulisan ini. Tapi untuk dijelaskan dalam tulisan publik, rasanya terlalu sensitif dan akan berbahaya bagi diri sendiri.

Dulu ketika sekolah di Semarang, sempat agak “rajin” ibadah minggu. Tujuannya cuman 1, cari ketenangan. Hampir satu tahun berjalan, sayang rasa tenang itu menghilang. Bukan karena ajaran kristennya, tapi karna pengkotbahnya. Begitu juga ketika menginjakan kaki di Sulawesi, sempat coba untuk ibadah “minggu” lagi, tapi aku merasa lebih tenang untuk tidak beribadah “minggu” lagi.

Ibadah selalu digambarkan sebagai obat ampuh. Jauhi narkoba, ya ibadah. Sial / tidak beruntung ya ibadah / amal. Suwung / resah, obatnya ibadah. Bahkan masalah sosial, ataupun ekonomi (yg kadang jelas2 solusinya cari kerja, pelatihan atau cari link pekerjaan) ya solusinya pekerjaan. Padahal ya linktre dan telegram sudah ada.

Dulu sewaktu kecil, dalam ajaran yg diajarkan kepadaku, bentuk ibadah ya sekolah minggu. Atau ya Ibadah ya ke Gereja. Seiring meningkatnya umur dan kesadaran, beberapa pandangan-pandangan terkait hal tersebut cukup berubah. Tentu bisa jadi ke arah yang mungkin bagi sebagian orang kurang baik, karena sudah tidak pernah “ibadah” lagi ke Gereja. Tapi secara prinsip terkait dengan cara “ibadah” aku sudah tidak sekonvensional itu yg harus hari minggu dan ke Gereja, dan mungkin biar tidak dishare dulu. Mungkin kapan-kapan di kesempatan lain.

Aku tidak niat nyinyir, atau membenarkan cara yg aku jalani, atau menyalahkan cara yg akan aku bahas. Tapi ini murni karena terlalu sering tertumpuk di pikiran dan aku rasa ini agak tepat untuk disampaikan dalam tulisan.

Jadi begini. Dulu sekali ketika sekolah, sempat diadakan kepanitian Natalan di SMA. Ya bagus si, tujuannya “ibadah”. Ini juga berjalan pas di Semarang. Setelah waktu berjalan banyak yg aku sadari, apalagi dimasa “terbuka” aka medsos. Ternyata harus diakui dalam diri, pada saat itu dibandingkan bobot ibadahnya, mungkin lebih berat untuk menunjukan eksistensi. Setidaknya ambisi itu yg pertama kali dirasakan ketika guru “agama” waktu SMA atau senior Kuliah ketika menugaskan kami membuat kegiatan “ibadah” itu. Ya bahkan ketika SMA, lebih parah lagi (dan mungkin skali lagi tidak bisa diceritakan 😂). Ketika di Semarang, acara selesai dengan ditutup foto2 dan buat grup di media sosial (pada saat itu Facebook), dan posting foto dan di Like banyak orang.

Fenomena ini ternyata tidak hanya timbul di minoritas (yg memang butuh pengakuan) tetapi juga pada yg mayoritas. Dulu perasaan pernah tulis juga tentang fenomena “Jum’at-an” di Monas. Orang berbondong2 kesana untuk menunjukan kekuatan politik, dengan cara ibadah bersama di Monas. Tentu ini ga jauh beda dengan Natalan kami dulu, mencari eksistensi / kekuatan komunal. Ini masih sangan bisa diperdebatkan dan bisa jadi aku salah, tapi setelah berjalannya waktu, dan lain sebagainya aku rasa, gerakan tsb maih bisa dikategorikan dilakukan untuk eksistensi / kekuatan komunal jika dibandingkan dengan ibadahnya.

Dulu, ketika masih belum kuliah, ada kejadian unik sekali. Ini tanpa potongan dan tanpa bermaksud untuk mendeskritkan bentuk ibadah maupun cara beribadah.

Jadi ketika malam takbiran, seperti kumpulan pemuda pada umumbya di daera asalku, kami kumpul-kumpul nongkrong ga jelas. Menginjak pukul 02.00 (yg artinya sudah masuk hari lebaran) rekanku pamit untuk istirahat lebih dahulu. Kemudian yang bersangkutan berkata “Cuy, tidur duluan ya, besok kan Sholat Ied, setahun sekali masa ga sholat” sambil cengar cengir dan menuju rumah. Kami dengan santai bilang oke. Sejenak juga aku tidak merasa ada yg salah dengan perkataan tersebut. Setelah temaku berlalu, tidak lama temanku yang satu lagi berkata seperti ini : ” Yang satu tahun dikejar2, padahal ga wajib, yg wajib 5 kali sehari kok ditinggal2″ dengan santainya. Seketika aku kaget dan menyerengit (karena tidak ngerti terkait aturan ibadah sholat dll). Sambil penuh semangat (padahal rekan-rekan lain sebenernya mungkin punya pikiran dan kelakuan yg sama seperti temanku yg pamit pertama itu) berbicara : ” ya memang bener, itu mau ibadah, atau apa? Kok yg wajibnya ga diorioritaskan”. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2010 untuk informasi, walau ga oenting si, wkwk.

Kejadian itu membekas dan menambah khazanah terkait tata cara pelaksanaan ibadah saudaraku yg Islam, setidaknya aku yg Kristen jadi lebih bisa lebih toleransi terkait pelaksanaan dan tatacara ibadah.

Momen ibadah Islam lainnya akan datang, yaitu lebaran Haji. Moga fokus ibadah lebih besar daripada glorifikasinya.

Edo Susanto

3 Juni 2021

Takalar (00.53)

Hari apa ini?

Dan pada hari ini urat2 itu bereaksi. Seperti pada orang lain pada umumnya. Tahun baru biasanya orang berdoa minta keberkahan, dengan mengunjungin Gereja, Masjid, Klenteng, Vihara, Pure, atau batu2 atau tempat2 sakral lainnya.

Tapi hari ini mungkin beda. Setelah orang2 pulang dari tempat-tempat suci seorang bocah meretakan harapan ibunya, mungkin saudara-saudarinya juga. Tentu bocah tersebut juga retak melihat ibunya retak.

Apa yg membuat retak harapan ibu?

Anak yg bocah itu beranjak dewasa, dan seakan tak dikenali oleh siapapun, oleh ibu, bapak yg sibuk, atau bahkan saudara-saudarinya.

Dan tiba2 ibu mengira akan pergi jauh, dan tak peduli lagi akan rumah. Padahal anak hanya bertumbuh, namun memang tidak sesuai harapan.

Tapi, apakah setiap kita anak harus sesuai dengan diharap ?

Padahal anak tetap dirumah dengan warna yg mungkin berbeda. Nyatanya berbeda itu menyakiti harapan ibu.

Kemudia dia kembali esoknya ke tempat2 suci berdoa kembali, menyusun kembali harapan yg pecah. Padahal ini bukan tahun baru.

Edo susanto, cikampek pukul 00.02 WIB

Manusia yang Maha Benar, Sang Kompas Kebenaran

Sebuah renungan yg sebenarnya dangkal, namun dirasa cukup nyata. Beberapa rangkaian kejadian, yg sebenernya agak memalukan.

Kejadian beberapa bulan yang lalu :

Telah terjadi kasus bulying di daerah Pangkep, Sulawesi Selatan. Dimana kejadian ini menjadi kasus yg cukup booming berikut link nya : https://www.instagram.com/p/CAS2lrEnFAt/?igshid=1jy2116slccbf

Gambar diambil dari capture FB penulis

Kejadian ini tentu sangat memilukan, dikarenakan tersangka merupakan manusia dewasa dan korban merupakan bocah kelas 5 SD. Salah satu penyebabnya konon tersangka tersinggung dengan korban yg dikesempatan sebelumnya “ngaleleye” alias meledek ala anak kecil. Tak terima tersangka membalas dengan perlakuan melakukan “prank” hingga korban tersungkur. Selain itu juga tersangka melakukan pemukulan terhadap korban.

Bagi saya tentu masalah tersebut sudah cukup, karna telah ditangani juga oleh pihak berwajib. Namun masalah timbul karena yg bersangkutan diduga pekerja BUMN tempat saya mencari nafkah. Namun usut punya usut ternyata tersangka merupakan pegawai alih daya / outsourching / mitra kerja yg statusnya kontrak dengan pihak ketiga yg bekerjasama dengan perusahaan.

Kejadian menarik terjadi disalah satu grup WA saya. Ada pernyataan yg menarik, berupa kalimat berikut : “Gx mungkin pegawai XXX memiliki akhlak dan mukak jelek seprti itu🤣”. Saya lumayan terganggu dengan kalimat provokatif seperti ini, lebih tepatnya kalimat bodoh sekali seperti ini, dimana minim logika, merasa paling benar, tentu saya coba ingatkan bahwa kalimat yg dilontarkan kurang pantas dan tidak ada relasinya. Dengan personel yg sama setelah saya ingatkan bahwa pernyataannya kurang tepat, ybs tetap semberono membalas seperti ini : “Biasanya bg klo akhlaknya dah jelek mukanya ikut jelek bg🤣”. Ya sudah saya cuman diam saja, setelah dipikir2 personel yg bersangkutan juga saya kira minim (ahlak karna ledek2 seoerti ini dan otonatis), mukanya ……….. Ah sudahlah, toh saya juga ga ganteng dan barangkali saya juga ahlaknya jelek. 🙂

Balik lagi ke topik pembenaran dapam “counter bullying” yg dilakukan temen saya, belakangan menjadi trend dan pola prilaku baru masyarakat. Tanpa bermaksud mendukung pelaku, saya merasa perudungan balik karena kejadian ini terekspose tidak membuat korban menjadi pebih baik. Efek jera bagi pelaku mungkin ada, tapi dampak negatif dari perudungan balik ini menjadi masalah yang lebih lanjut.

Disadur dari sehatq.com ; alasan orang melakukan bullying adalah karena keinginan untuk mendominasi orang lain dan meningkatkan status sosial. Biasanya akibat percaya diri yang rendah, merasa marah atau frustrasi dan gagal dalam bersosialisasi. Sepertiganya mengakui sebagai korban bullying sebelumnya.

Pernyataaan menarik dari ringkasan diatas adalah pelaku bullying alsepertiganya adalah korban dari bullying sebelumnya. Ini menarik karena, bisa jadi riuhnya media sosial kita untuk melakukan perudungan balik kepada pelaku bullying yg viral bisa jadi dikarenakan lingkaran setan dari bullying itu sendiri. Selain itu juga ada penyebab lainnya PD yg rendah, rasa marah, atau frustasi. Saya sampai ke dalam kesimpulan, buruknya atmosfer media sosial indonesia adalah karena masyarakat kita tidak b

Orang yg gagal di kehidupan beralih ke dunia yg pecundang seperti media sosial, karena disana mereka pikir mereka tidak terdeteksi, mereka tidak diketahui siapa, entah itu pemenang, entah itu pecundang. Kemudahan akses, murah dan tak terbatasnya jalan menuju media sosial, serta hilangnya identitas karena masifnya globalisasi, membuat orang Indonesia kadang hanya ikut dari trend itu sendiri, termasuk perudungan balik

Saya terakhir melihat beberapa berita yg berisi “apresiasi” dari orang2 kepada si korban. Sekali lagi, tanpa bermaksud mendukung perudungan atau pembullyian, reapon masyarakat kepada korban juga tidak lrbih baik dari perudungan balik itu sendiri. Masyarakat kita yg juga “haus manggung” membuat beberapa publik figure / pejabat daerah berbondong2 “hadir” didepan si korban. Padahal jika kita tarik dan putar kembali video tsb, keduanya memang sering saling bercabda seperti itu. Namun memang di video paling terakhir, perlakuan pelaku kepada korban memng banyak yg merasa berlebihan dan berniat mencelakakan.

Penghiburan berlebih kepada korban, membuat korban menjadi lemah dalam determinasi, karena merasa dirinya sudah cukup, sudah benar, padahal kita yg mendukung belum tau sebenarnya baik dan buruk si korban.

Melakukan perudungan balik yang berlebihan juga bukan pilihan yang bijak. Padahal hal seperti ini biasanya diselesaikan dengan ceramah atau bimbingan tetua kampung. Yang lebih dari cukup sebenarnya adalah sudah di prosesnya yg bersangkutan dalam proses hukum. Perudungan berlebih, sama saja kirta memberi “ekstra” hukuman ke ybs.

Berkaca kepada kenalan (bukan teman) yg semberono tadi, saya cuman bisa doakan ybs untuk mawas diri. Tentu tidak ada kebenaran mutlak saat ini di dubia, namun dalam hemat saya, apa yg dilakukan ybs tidak logis dan berdasar. Pertanyaan selanjutnya, apakah hidup ini semengecewakan dan membuat ybs sangat marah? Sampai2 melakukan counter bullying yg ga logis sama sekali?

Semoga damai di bumi, damai selalu di hati kita semua umat yg salah dan mau belajar.

Edo Susanto

Takalar, 15 September

21.41 WITA

Eksistensi (Milenial)

Malam ini saya agak jenuh buat garap (TA), ***lah, moga abis nulis bisa mood lagi. Beberapa saat yang lalu saya pernah menertawakan “generasi sekarang” yang ngaku anak 90’an, mereka merasa sebagai generasi yang paling “oke”, dan merasa bahwa masa kecilnya bahagia dan “bla-bla-bla”. Saya sendiri sebenarnya agak malas menanggapi, karna saya juga bagian dari generasi itu, dan terasa aneh jadinya kalo saya menjelek2an generasi sendiri, atau lebih tepatnya menjelek2an apa yg pernah saya jalani di masa kecil .

Saya masih ingat betul waktu kecil banyak sekali “musim”, ada musim bermain layang-layang, ada juga musim panggal *saya ga tau bahasa indonya*, lompat tali, ada juga “teple” *yg loncat2in kotak, lupa namanya*, musim melihara ayam, musim kelereng, ya intinya banyak permainan tradisional dan kegiatan2 yg masih saya mainkan dan lakukan di masa itu. Juga tonton-an seperti Crayon Shinchan, Doraemon (tanpa sensor Shizuka), juga kartun2 lainnya yg sarat kekerasan kaya Dragon Ball, Samurai X, dll.

Dan hari ini jadi “riuh” karna wacana KPAI yg mengusulkan akan memblokir “game Online” dan beberapa game lainnya yg katanya syarat kekerasan. Generasi saya (di FB terutama) bayak yg protes, dan berkata anak generasi sekarang makin ancur aja, gak ada masa depan karena banyak yg dibatasi atau dilarang.

Mei 2016

Sekarang :

Tulisan ini dibuat pada mei 2016, kemudian disuting di beberapa bagian, mungkin lanjutan tulisan ini adalah tanggapan dan lanjutan dari pemikiran 4 Tahun lalu.

Saya merasa generasi kami, atau yg biasa disebut generasi milenial adalah generasi yg sok oke, sok paling bener, haus pengakuan, sok istimewa, dan merasa bahwa generasinya lah generasi terbaik. Padahal harus mawas diri, generasi milenial adalah manusia2 tanpa determinasi.

We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our Great War’s a spiritual war… our Great Depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we won’t. And we’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off. TYLER DURDEN (in “Fight Club” movie)

Quotes diatas seolah menampar keras bagi saya pribadi. Pamer pencapaian, mudah “ngaku” depresi, minim determinasi dan mudah mengeluh juga sering menghiasi dinding2 media sosial pada saat ini.

Beberapa rekan sering berkata “kita ini generasi milenial, karakteristiknya mudah bosan, inginnya mencari tantangan, multy tasking, dan lain sebagainya”. Kadang alasan “Milenial” ini menjadi tameng ketika generasi kami berada dikondisi yg “kurang mengenakan”. Contohnyatanya adalah rekan saya tersebut akhirnya juga mengeluh ketika diberi “tantangan” atau diberi banyak pekerjaan. Dan pada kondisi tersebut saya cuman bisa bilang bul***t lah.

Menanggapi 4 tahun lalu ketika ada kondisi pelarangan game online berbasis kekerasan sebenernya paham sih, bahwa generasi milenial nih merasa dia adalah generasi yg lebih unggul dari generasi sebelum dan sesudahnya, padahal itu cuman semu belaka, dan sangat manipulatif, kenapa? Asumsi saya mengatakan, generasi milenial merupakan generasi “pasar pertama” moderenisasi kecepetan data / internet, sehingga apapun yg ads di internet adalah suara “generasi itu sendiri, bukan suara akar rumput. Ketertutupan generasi milenial untuk berinteraksi dan crosscheck data menjadi kelemahan tersendiri.

Kondisi tersebut menjadikan generasi milenial generasi yg angkuh dan malas evaluasi. Jumlah yg banyak, dan kebenaran semu di masa post truth, menjadikan generasi milenial hidup di dalam mimpinya.

Meski tidak dipungkiri banyak juga yang “tidak manja”, tapi tidak bisa dipungkiri, jiwa2 yg dibangun karena internet, bukan kebudayaan seperti generasi2 sebelumnya, membuat milenial terlalu jauh melangkah meninggalkan identitas, dan serentak menjadikan globalisasi adalah budaya itu sebdiri. Kecintaan yg cetek, penilaian yg dangkal atas kebenaran, generasi minim ideologi, dan obsesi yg semu tak bernilai, akan membawa generasi ini ke dalam, sisi yang gelap suatu saat nanti.

Skema terburuk adalah, generasi ini akan terasing dari identitasnya sendiri, merasa paling benar, yg tentu mengakibatkan tersesatnya arah suatu bangsa. Cepat atau lambat, dengan jumlah demografi yg signifikan mewakili jumlah penduduk Indonesia, bagi saya akan tiba masa banyak masalah terbit bukan karena keadaan, tapi karena salah pengambilan keputusan, yg diakibatkan dari egoisnya dan malasnya generasi milenial belajar dan mendengar dari para pendahulunya

Edo Susanto

14 September 2020

Pukul 20.35 WITA

Review Buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”

Saya baru saja menyelesaikan buku yang berjudul “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya” karya Rusdi Mathari.

Salah satu buku yang sering saya *eman untuk diselesaikan karena begitu dalam dan bagus. Sepaham saya ini adalah salah satu kumpulan cerita yg pernah di posting mojok.co dalam series bulan puasa yang kemudian dibukukan (bisa dilihat dalam pengantar untuk penjelasan lebih lanjutnya).

Seperti penjelasan sebelumnya bahwa buku ini adalah kumpulan cerita, detail cerita yang dimaksud adalah kondisi suatu kampung (yang kemungkinan berada di wilayah Madura), dengan pusat cerita: Cak Dhalom orang yang dianggap gila oleh orang-orang kampung, Mat Piti, Romlah (anak Mat Piti), pak Lurah, Pak RT, Nody (suami Romlah), Cak Dullah, Warkono, Busairi, Janda dari Bunali, Sarkum (anak dari Bunali), dll

Ceritanya boleh dibilang penuh makna, dari beberapa saduran, penulis sendiri menulis bahwa terinspirasi dari beberapa refensi, namun dikondisisikan berdasarkan tokoh2 yang ada. Sentral dari cerita sendiri adalah Cak Dhalom, orang yang dianggap gila namun secara historis ternyata pernah menimba ilmu di pesantren. Arti Dhalom sendir adalah Bodoh. Pikirannya yang terbilang nyeleneh, namun tidak bisa dipersalahkan juga oleh tokoh-tokoh lain. Salah satu bagian cerita yang sangat berkesan adalah mengenai cerita pak Lurah dan kematian / bunuh dirinya janda Bunali.

Suatu ketika janda Bunali ditemukan meninggal bunuh diri di rumahnya karena tidak kuat mengatasi tekanan kemiskinan. Dia yang pada saat itu melarat, bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Lurah, namun karena kemiskinannya membuat dia sering berhutang dan menahan lapar, bahkan anaknya tidak bersekolah karena tidak ada biaya. Cak Dhalom menangis sejadi-jadinya karena merasa dia dan seluruh warga kampung abai, hingga membiarkan Janda Bunali tertekan dan bunuh diri. Cak Dhalom dalam doanya yg dia keraskan merasa Zhalim, dan terlalu sibuk membangun masjid dan menumpuk kekayaan, dan malah membiarkan tetangga melarat dan sengsara.

Singkat cerita Pak Lurah yang baru pulang dari umroh (yg kesekian kalinya), merasa tersinggung dengan kalimat “membangun mesjid dan menumpuk harta” apalagi Janda Bunali bekerja di tempatnya. Dalam cerita terjadi perbincangan antara Cak Dhalom dan Pak Lurah yg dalam hal ini membuat Pak Lurah marah dan panas dalam dada. Secara mengejutkan Cak Dhalom yg dianggap gila, mampu menyampaikan surat-surat dalam Al-Quran yang kurang lebih mengatakan bahwa rasa panas di dada yang dialami oleh Pak Lurah adalah rasa dengki, sombong, dan merasa lebih tinggi dari oranglain (red), yg pada akhirnya membukakan mata hati Pak Lurah yg keras nan angkuh.

Kelebihan

Sebagai buku yg sebenarnya ditunjukan untuk warga Islam, buku ini sangat ringan dan tidak terlalu menunjukan ke-Islamannya. Hal ini dikarenakan cerita-cerita yang begitu lekat dengan kehidupan sehari2, sehingga relevan dan masuk akal. Sisipan2 nilai juga sifatnya general, sehingga tidak mengintimidasi bagi pembaca yang bukan Islam.

Setiap tokoh tidak dibuat sia-sia, punya peran masing-masih dan menjadi tokoh penting. Salah satu tokoh yang paling saya suka adalah Cak Dullah, yg sangat unik.

Kekurangan

Tanpa bermaksud menjelek-jelekan, bahwa Cak Dhalom sebagai pusat cerita terkadang membuat cerita terlalu aneh. Swing penokohan dari anti menjadi pro dengan Cak Dhalom menjadi kurang nyaman, karena terlalu berlebihan dan dibangun dengan dasar yang kurang kokoh (kurang masuk bagi saya pribadi). Tidak semuanya, hanya beberapa seperti Batu Enggan Jadi Manusia, Bersedekah Dengan Nyamuk, dan Manusia Itu Tapi Disengat Tawon Itu Berbeda. Mungkin masalah adaptasi saja yang membuat sulit diterjemahkan versi Cak Dhalom, karena sumber cerita sendiri isinya kurang membumi dibandingkan dengan yg lain. Selain itu ada surat2 yang memang masih menggunakan bahasa arab tanpa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, padahal hal ini mungkin akan jadi penting bagi cerita itu sendiri.

Mungkin salah satu yg agak kurang adalah dimensi waktu. Dalam cerita dijelaskan umur dari Romlah adalah 29 Tahun, namun selihat saya umur Cak Dhalom, Mat Piti dan lainnya tidak dijelaskan, padahal hal ini penting adanya (untuk membantu menvisualkan seberapa logisnya tindakan-tindakan dari tokoh)

Konklusi

Buku ini sangat menyenangkan, ringan dibaca, namun sarat dengan nilai-nilai kehidupan, mungkin sesuai dengan judulnya dimana terselip kalimat “Kisah Sufi dari Madura”. Dalam tingkatan tertentu membuat kita sadar bahwa kehidupan bukan hanya hubungan dengan Tuhan, melainkan dengan sesama manusia (Hablumminallah, Hablumminannas) (disadur dari Google) atau dalam kepercayaan saya ilu Kasih dimana diperintahkan : Kasihilah Tuhan Allah mu, dan Kasihilah Sesamau (disadur dari Alkitab). Hal ini menjadi penting ditengah kemajuan manusia pada saat ini dimana kesadaran ber-Tuhan memang cukup tinggi, namun kesadaran untuk berkemanusian semakin tipis, merasa bahwa dirinya yang paling benar, padahal kita tak berhak, bahkan lebih dalam lagi kita ini bukanlah apa2. Kita terkadang merasa benar, merasa pintar, padahal jangan kan pintar, bodoh saja disetiap kita, kita tak punya

*sayang

Jumlah halaman : 226 Halama

Ukuran buku : +- 15 cm x 10 cm (nda ada penggaris 😬)

Rating : 9/10

Edo Susanto

10 Mei 2020 Pukul 01.37 WITA

Rencana Untuk Blog ini

Ada beberapa perubahan format terkait Blog ini (moga2 ga makin random). Sementara ini blog masih berisikan pandanga2 personal terkait kejadian sehari2 dan politik skali2. Karena peraturan perusahaan yang mebatasi gerak politik, dan juga kecenderungan diri yang semakin “gak sehat” dalam bersikap, memandang dan menilai suatu kondisi, tentu karena cukup berbahaya, segala sesuatu terkait pandangan akan sedikit dikurangi.

Adapun aku akan coba menulis resesi dan menilai dengan sekedarnya tentang buku yg dibaca selama hidup, semoga bisa manfaat. Salam

Edo Susanto

Takalar, 2 Mei 2020

Pukul 21.42 WITA

Mencari Kewarasan

Tahun 2020 menjadi titik balik dimana agama dan ideologi bisa ditapiskan dulu untuk sementara. Orang yang biasanya sibuk akan apa yg ingin diwariskan kepada generasi berikutnya, mulai bertanya2 apakah akan ada generasi berikutnya? Penyebabnya tentu Covid-19.

Saat ini Jakarta, kota-kota satelit seperti Bekasi, Depok, Tanggerang, kota-kota besar Indonesia seperti Surabaya, Jogja, Bandung bahkan yang terdekat Kota Makassar sudah mulai menerapkan PSBB (pembatasa Sosial Berskala Besar). Sekolah diliburkan, beberapa kantor ada yg masih bisa survive dengan melaksanakan WFH (Working From Home), sedang yg stop produksi nasibnya bagaimana? Terpaksa merumahkan.

Yg lebih buruk nasibnya tentu buruh harian, pekerja lepas, pengemudi online, atau bahkan pekerja seni (soundman, EO, seniman, dll) semuanya nol penpapatan. Pasar-pasar tradisional juga terpukul ekonominya oleh terpaan Covid-19. Hal ini salah satunya karena pola dan anjuran pemerintah untuk masyarakat agar menghidari kerumunan.

Negara sedang kebingungan, segala paket ekonomi sudah dikeluarkan, semoga negara selamat, amin.

Terlepas dari hal-hal yg membuat gila seperti hal-hal diatas, aku sendiri termasuk kelompok yang “sangat beruntung”. Tanpa bermaksud sombong, bekerja di BUMN aku membuat segalanya terjamin lebih ringan, terlebih pekerjaan. Perusahaan tempat aku bekerja bergerak dalam bisnis di bidang energi yg masih menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Dengan segala drama yang bakal diceritakan kapan-kapan, akhirnya perusahaan tempat aku bekerja menerapkan kebijakan WFH bagi pekerja yg buka dalam kebutuhan vital (operator, pengamanan, pemeliharaan, dll) dari proses bisnis. FYI aku sendiri bagian HSSE, kebetulan kebijakan dari atasan diberi kesempatan 2-3 hari WFO Dan 2-3 Hari WFH dalam seminggu. Intinya setengah2.

Dengan segala “kemewahan” yang didapat kadang bukannya membuat bersyukur, terkadang malah membuat diri ini menggila. Penerapan PSBB membuat ruang gerak terbatas. Kemudian WFO (yg artinya juga jangan jalan2 atau rekreasi ketika dirumah) membuat kewarasan semakin menipis. Jenuh di rumah, pekerjaan yg juga tidak bisa dilakukan di rumah, kadang membuat produktivitas kurang optimal. Tentu selain merugikan perusahaan (sudah pasti) kadang WFO ini membuat orang yg melaksanakan pekerjaannya tertimpa streess, karena hilangnya rutinitas pekerjaan.

Kesepian, jenuh jadi makanan utama. Hiburan seperti Spotyfy (Lagu dan Podcast) kadang membosankan dan terdengar hanya sebagai pepesan kosong. Youtube hanya mengulang tayangan2 lama. IG hanya melihat hal-hal yang tidak berguna. Pelaksanaan WFO dari awal Bulan Maret ini makin membuat aku menggila.

Setelah mengeluh kepada kekasih, akhirnya dia menyarankan sesuatu yang menurutku menarik. Dia menyuruh aku melakukan vidio call dengan teman-teman terdekat ketika sekolah dan kuliah. Awalnya aku menolak, dengan alasan ga enak mengganggu dan kikuk juga. Namun setelah dipikirkan selama 2 pekan, stuck tanpa hiburan yang cukup, akhirnya hari ini aku menelpon teman lama, yaitu Restu alias Gatot teman masa kecil dan David, teman masa kuliah.

Hasilnya lumayan. Selain membuat pikiran lebih fresh, ternyata mendengar cerita, kabar baik, kabar sedih dari sahabat-sahabat lama merupakan obat yg manjur bagi perantau. Gatot menceritakan tentang pekerjaan dan bisnis sampingannya dibidang saham dan sepeda. David bercerita tentang percintaan dan pekerjaan. Sungguh cerita yang membangkitkan sense untuk hidup dan bersyukur.

Selain hal-hal diatas juga aku gak nyangka, hal diatas membuat aku terpacu untuk berbagi perasaan lagi di Blog ini. Dengan segala rasa hormat bagi pembaca, semoga kalian bisa bertahan ditengah pandemi ini. Bagi kalian yg susah dan sedang bertahan hidup, tetaplah bersabar. Semoga kita dan negara tetap diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, amin

Edo Susanto

29 April 2020

Pukul 00.35 WITA

Takalar

Kembali ke nol

Pendek saja. Tahun ini tahun berkat. Tuhan yg maha pemurah memberikan segalanya. Namun segalanya kembali ke nol, keluar dari zona nyaman.
Kebiasaan menulis belum digalahkan lagi, tapi syukur, karena sudah ada modal, sudah banyak buku yg dibeli, seolah tak bosan membaca dan terutama membeli. Tapi godaan untuk tidur masih jadi tantangan utama. 
Syukur, sekarang sudah kerja, dan berada di perusahaan milik negara yg niat tulusnya dapat bermanfaat untuk masyarakat dan negara. Semoga pengabdian ini . Tentu tantangan selalu ada, dan semoga Tuhan memberi jalan.
Banyak hal dalam persimpangan jalan. Semoga dapat diarahkan dalam jalan terbaik untuk semua pihak. Amin
Edo susanto

1 januari 2017

00.02 WITA

Manusia 90 juta

Ketika awal menandatangani surat kontrak dengan PLN, tertera angka 90 juta sebagai denda atau bahasa kerennya pinalty bagi orang2 yg ingin keluar dari perjajian tersebut.

Dengan ikhlas dan mantap, surat tersebut saya tanda tangani, toh memang niat untuk bekerja, dan juga mengabdi untuk negara. Silih berganti hari, masuklah saya kedalam proses pendidikan, corporate university namanya, atau udiklat (unit pendidikan dan pelatihan) perusahaan bahasa lokalnya. Hari berganti hari, rasa sadar datang, keinginan menambah harga dari diri yg dihargai 90 juta hadir. Dengan perantara onlne shoping, terjadilah transaksi jual beli, belasan buku dibeli dan dibaca. Rasa sombong timbul karena merasa sudah tau.

Tiba hari pengumuman, nasib membawa menuju tanah perantauan, Sulawesi Selatan. Tak ada teman, tak ada saudara. Bosan tiap hari dengan rutinitas perjalanan pulang dan pergi yang jaraknya puluhan kilometer. Sombong itu tumbuh, dan dia hadir dengan nyaman.

Nyatanya 90 juta hanyalah angka diatas kertas, kenyataannya, saya belum selayak itu. Ketika ditanya UU apa saja yg berhubungan dengan pekerjaan hanya terbengong. Diberi pekerjaan, berlari pelan. Astaga.

 

Tuhan terimakasih atas kesadaran, berikan lebih dan rasa syukur yg lebih dalam atas semuanya. Semoga semuanya selesai, sesuai niat awal, mengabdi kepada negara. Dan jadikanlah hamba layak.